Ketika Serikat Buruh Berbicara Lingkungan Hidup

Ketika saya menyampaikan pandangan akan pentingnya peran serikat pekerja/serikat buruh untuk terlibat dalam kampanye tentang isu lingkungan hidup, beberapa kawan sempat memberikan komentar sinis. Banyak yang berpendapat, bahwa isu lingkungan hidup tidak ada korelasinya dengan permasalahan yang dihadapi kaum buruh.

”Kurang pekerjaan, apa? Masalah perburuhan saja banyak yang belum terselesaikan,” komentar seorang kawan.

Sebagai orang yang sehari-hari berkecimpung dalam dunia peburuhan, saya menanggapi berbagai pendapat itu dengan senyuman. Saya sadar betul, bahwa selama ini perjuangan serikat pekerja/serikat buruh selalu melulu soal rendahnya tingkat upah, maraknya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), tidak adanya jaminan sosial, hingga permasalahan seputar buruh kontrak/outsourcing.

Pandangan itu saya sampaikan pada akhir 2007, dalam rapat kerja tahunan Forum Solidaritas Buruh Serang (FSBS). Rapat Kerja Tahunan merupakan forum tertinggi di dalam FSBS yang berfungsi untuk menyusun program kerja. Sejak adanya penolakan beberapa kawan, saya tidak pernah lagi membicarakan perihal pentingnya mengkolaborasikan gerakan buruh dengan isu-isu lingkungan hidup.

Hingga suatu ketika, FSBS mendapat undangan dari Sekolah Demokrasi Tangerang untuk menghadiri Dialog Publik bertajuk Demokrasi dan Lingkungan Hidup. Pada kesempatan itu, Asep Jatnika, Kepala Pengawasan dan Pengendalian Limbah Kabupaten Tangerang, mengungkapkan fakta yang mengejutkan. ”Banyak industri besar, termasuk industi penghasil B3, yang membuang limbahnya ke sungai tanpa melalui pengolahan terlebih dahulu. Sebanyak 192 industri di Tangerang berpotensi menghasilkan limbah cair, 111 industri mempunyai IPAL dengan total potensi limbah cair 8.815 m3/hari dan 81 industri tidak memiliki IPAL dengan potensi limbah cair 8.370 m3/hari.”

Tidak berhenti sampai disitu, data tersebut masih ditambah dengan 110 industri yang berpotensi menghasilkan limbah gas. Dari jumlah tersebut, baru 50 industri yang memiliki cerobong yang sudah sesuai dengan Keputusan Bapedal Nomor: 205/Bapedal/07/1996. Belum lagi dengan dengan adanya 311 industri yang berpotensi menghasilkan limbah padat. 161 diantaranya menghasilkan limbah pada non B3, dan 150 lainnya menghasilkan limbah padat B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun).

Bisa dibayangkan, kerusakan lingkungan yang lebih parah akan terjadi, apabila pertumbuhan industri tidak disertai dengan adanya keseimbangan pembangunan yang berwawasan lingkungan hidup. Padahal kita tahu, lingkungan yang sehat adalah syarat mutlak yang harus dipenuhi untuk terwujudnya masyarakat yang sejahera dan berkualitas. Pun kita tahu, ratusan ribu buruh bekerja di perusahaan-perusahaan, yang limbahnya mencemari lingkungan hidup.

Gagasan Baru, Langkah Baru

Sejak saat itulah, beberapa orang aktivis buruh mulai menyadari pentingnya program kerja serikat buruh juga menyinggung soal lingkungan. Beberapa data juga menunjukkan, bahwa penghasil limbah industri yang menyebabkan pencemaran lingkungan, beberapa diantaranya berasal dari pabrik-pabrik yang didalamnya sudah berdiri organisasi serikat pekerja. Ini sebenarnya sudah cukup mendorong serikat pekerja, yang didalamnya terhimpun para pekerja – di sektor formal – dengan segala pontensi yang dimilikinya, memainkan peran lebih besar. Apalagi, selama ini gerakan buruh cukup diakui eksistensinya. Hal ini terlihat ketika melakukan advokasi dalam memperjuangkan hak-hak kaum buruh, dan berbagai aksi untuk menentang berbagai macam ketidakadilan.

Hingga suatu ketika, Lembaga Kerjasama Tripartit Provinsi Banten, sebuah lembaga non struktural yang beranggotakan perwakilan serikat buruh, organisasi pengusaha, dan wakil pemerintah menyelenggarakan gerakan penanaman seribu pohon dalam acara May Day (peringatan hari buruh internasional), tahun 2009.

Atas inisiatif Isbandi Anggono, Ketua Konsulat Cabang Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Kabupaten Serang, akhirnya disepakati untuk me-launching Jaringan Pekerja Peduli Lingkungan Hidup (JP2LH) dibawah kendali Forum Solidaritas Buruh Serang. Ide pembentukan JP2LH adalah menggunakan pengaruh serikat buruh untuk mengawasi perilaku perusahaan. Misalnya memastikan perusahaan tidak membuang limbah ke sungai, mendorong pengusaha untuk menanam dan merawat pepohonan di lingkungan pabrik, hingga menanamkan kepedulian terhadap lingkungan kepada para anggotanya..

”Jumlah buruh di Serang-Banten merupakan angka yang signifikan untuk turut serta mengkampanyekan isu-isu lingkungan. Oleh karenanya, kita membutuhkan kader-kader militan yang terstruktur dan mempunyai jaringan yang luas untuk menyebarkan gerakan cinta lingkungan dalam bahasa yang mudah dicerna oleh buruh. Di perusahaan tempat mereka bekerja, dan di lingkungan tempat mereka tinggal,” ujar pria yang pernah hadir dalam konferensi PBB untuk perubahan iklim (UNFCCC) di Bali pada bulan Desember 2007 itu.

Hanya, memang, sebagai gagasan baru, apa yang dilakukan Forum Solidaritas Buruh Serang dengan JP2LH-nya merupakan langkah yang menarik. Kendati hasilnya tidak bisa dilihat secara instan. Namun begitu, ibarat bunga yang masih kuncup, keberadaannya berpotensi menghadirkan perubahan besar bagi masyarakat di kawasan industri untuk lebih peduli terhadap lingkungannya. Kita tunggu saja, dan biarkan waktu yang akan membuktikannya.

Berbicara tentang perjuangan upah murah di kalangan serikat buruh, itu sudah lumrah. Agenda tolak outsorcing dan PHK, menjadi agenda sepanjang tahun gerakan serikat pekerja. Namun, bila gerakan serikat buruh juga mengkolaborasikan dengan isu-isu lingkungan, barangkali belum banyak yang melakukan. (*)

Tulisan ini diikutkan dalam Lomba Nokia Green Ambassador

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s