Jangan Mau (Sekedar) Menjadi Tua

Seperti tahun-tahun sebelumnya, ketika liburan hari raya Idul Fitri tiba, beberapa kawan mulai mempersiapkan acara reuni. Acara seperti ini cukup mengesankan, sekaligus menjadi ajang silaturahmi dan arena untuk bertatap muka setelah sekian lama tidak bersua. Kebersamaan yang dulu pernah tercipta, kendati tidak terlalu lama, namun nyatanya mampu menciptakan kesan mendalam.

Reuni biasa dilakukan oleh komunitas tertentu. Dilakukan oleh alumni Sekolah Menengah Atas hingga Perguruan Tinggi, bahkan dalam sebuah keluarga besar. Pendek kata, reuni adalah momentum untuk mempertemukan kembali orang-orang yang di masa lalu pernah bersama dan saling mengenal. Sebuah ruang bagi kita untuk mengenang dan bernostalgia dengan usia muda. David, misalnya, alumnus SMK Negeri 1 Blitar ini adalah salah satu orang yang setiap tahun rajin memberikan undangan reuni kepada saya. Kepeduliannya untuk mempertemukan kembali orang-orang yang dulu pernah bersama, layak untuk mendapat apresiasi. Di jaman yang mulai mengarah pada kehidupan individualistik seperti ini, orang-orang yang memiliki kepedulian seperti David semakin jarang kita temui. Apalagi undangannya tulus, jauh dari kepentingan individu, seperti kebanyakan politisi yang membajak acara-acara seperti ini untuk kepentingan pragmatis.

Reuni bukan untuk sekedar bertemu dan mengenang kembali. Itulah saatnya kita menyadari, bahwa ternyata usia kita bertambah. Kebersamaan yang pernah tercipta, menimbulkan kesan mendalam. Kesan sekelompok anak muda yang selalu dalam kekompakan, yang secara bersama-sama mencari identitas diri.

Namun setelah sekian tahun berlalu, selain profesi yang beragam, statusnya pun bermacam-macam. Ada yang menghadiri reuni dengan putri kecilnya, ada yang cukup mengajak istri, namun tak jarang yang mesih sendiri. Semua sudah jauh berubah. Hanya satu yang sama, sama-sama tumbuh menjadi tua. Mengapa saya memilih kata-kata, tua? Bukan dewasa? Sebab ahli psikologi membedakan pengertian tua dan dewasa. Menjadi tua tidak selalu dewasa. Tua selalu identik dengan usia. Sedangkan dewasa lebih kepada sikap dan pola pikir.

Maka, alangkah ruginya manusia yang hanya tumbuh menua, namun tidak menjadi dewasa. Bukankah secara filosofi, pada saat usia bertambah sesungguhnya ”jatah” umur kita yang berkurang? Betapa banyak orang yang secara usia sudah layak untuk disebut dewasa, namun ia tidak memiliki sesuatu yang layak membuatnya untuk dihormati oleh orang lain. Manusia dihargai dengan ilmu, kejujuran, dan segala kebaikan yang kita miliki.

Itulah sebabnya, ketika undangan untuk hadir dalam acara reuni alumni SMKN 1 Blitar tahun ini saya terima, saya membuat catatan kecil tentang hal yang paling saya inginkan saat masih muda: (1) Mendapat pekerjaan yang menyenangkan; (2) Memiliki istri cantik jelita di usia muda (saya terpengaruh buku ”Kupinang Engkau dengan Hamdalah”, karya Mohammad Faudzil Adhim); (3) Menjadi penulis; (4) Memiliki rumah dengan perpustakaan kecil di dalamnya, dan (5) Mati masuk surga.
Bersamaan dengan bertambahnya usia, beberapa keinginan di atas memang sudah tercapai, kendati belum seideal yang saya bayangkan dulu. Saat masih muda, memandang masa depan seperti laut. Coba bayangkan, saat kita memandang laut lepas dari tepi pantai, hanya keindahan yang terhampar di depan mata. Camar yang terbang rendah, mega-mega yang mendatar, dan debur ombak yang menghantam batu karang, mendatangkan rasa bahagia yang sulit diungkapkan. Namun apabila kita berlayar di tengahnya, semua keindahan itu nyaris tidak terlihat. Kini yang kita jumpai adalah sederet perjuangan untuk melawan ombak dan badai agar bisa selamat sampai di dermaga.

Bagi mereka yang libur idul fitri nanti bermaksud mudik, misalnya, juga menghadapi tantangan yang sama. Apakah setelah sekian tahun lamanya meninggalkan kampung halaman, membuatnya menjadi lebih berarti dari sebelumnya? Atau hanya sekedar usianya yang bertambah?

Sebab tidak jarang mudik juga menjadi ajang pembuktian. Membuktikan bahwa ia sudah berhasil, paling tidak lebih baik dibandingkan dengan mereka yang bertahan di kampung halaman. Kalaupun hidup ”susah di Jakarta”, jangan sampai teman-teman di kampung halaman tahu akan kesusahan itu. Strategi ini sah digunakan, sebab memang tidak ada orang yang mau divonis gagal. Namun semestinya tidak berhenti sampai disitu, harus ada upaya nyata dan sungguh-sungguh untuk meningkatkan kualitas diri.

Itulah sebabnya, pasca Ramadhan dan libur Idul Firtri yang sebentar lagi akan kita jalani, sikap dan kepribadian kita harus lebih baik dari sebelumnya. Jangan mau hanya menjadi tua! (*)

Posted in Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s