Aliansi SP/SB Sebagai Satu Strategi?

“Semakin mendalami, semakin terusik”. Setidaknya itulah hasil refleksi saya selama empat hari ini berada di Medan, 25 – 28 Maret 2010. Meskipun agenda yang sedang dijalankan oleh Trade Union Right Centre (TURC) kali ini bertajuk Kuliah Hukum Perburuhan untuk Aktivis Serikat Buruh (Labour Law Course for Trade Unionist), namun berbasis pada penguatan aliansi lokal. Sehingga, sesekali dialog dan diskusi kami menyentuh mimpi bagaimana membangun sebuah persatuan gerakan buruh secara Nasional. Persatuan gerakan buruh adalah adalah kunci untuk meningkatkan posisi tawar serikat buruh yang semakin terfagmentasi.

Dan semakin saya mendalami tentang aliansi, membuat saya semakin terusik. Terusik, disebabkan karena beragam tantangan yang ada. Bukan karena faktor eksternal, tetapi kebanyakan lebih karena hal-hal yang bersifat internal. Bahwa secara sadar, ada beberapa aktivis buruh yang memang tidak bersedia untuk bersatu.

Saya paham, setiap daerah memiliki karakteristiknya sendiri. Saya tidak memiliki cukup data untuk menyebut, apa saja faktor yang menyokong terbentuknya karakteristik itu. Namun yang paling terasa, adalah soal pimpinan serikat buruhnya (budaya oligarkhi). Bagi saya, persis pada bagian inilah letak permasalahannya.

Mengambil contoh di Serang, persatuan gerakan serikat buruh berhasil dibangun karena memang ada kesadaran dari pimpinannya (pengurus setikat DPC). Bukan sekedar sadar, namun ada kerendahan hati dan keikhlasan untuk berbagi peran. Diluar semua itu, adalah kemauan untuk bertanggungjawab terhadap setiap otokritik dari internal serikat buruh. Termasuk terhadap perangkat organisasi di atasnya.

Hal menarik, ketika berdiskusi dengan pimpinan Serikat Buruh, di Sumatera Utara sebenarnya sudah terbentuk beberapa aliansi. Beberapa diantaranya adalah:
– Gebrak: Gerakan Buruh Anti Perbudakan
– Abkomen: Aliansi Buruh Kota Medan
– Abdes: Aliansi Buruh Deli Serdang
– Aliansi Buruh Bersatu

Beberapa masih aktif hingga sekarang, beberapa sudah tidak lagi. Hanya, memang, pada tahap selanjutnya, fragmentasi gerakan justru terjadi diantara aliansi-aliansi ini. Penting untuk dicatat, sebagaimana yang beberapa kali disebut oleh peserta diskusi, hal ini disebabkan faktor egoisme individu dan ”pengalaman masa lalu”. Namun, sesungguhnya dibalik semua alasan itu adalah faktor lain yang sengaja disembunyikan, yaitu adanya kepentingan pribadi/kelompok. Popularitas, dan juga, uang.

Apa yang tertangkap dalam benak saya, kemudian adalah sebuah pertanyaan besar. Untuk apa sebenarnya aliansi harus dibentuk? Popularitas? Bisa jadi benar, karena ketika kita membangun sebuah gerakan buruh yang kuat, secara otomatis popularitas akan didapat. Saya katakan otomatis, ibarat bayangan diri, ia akan mengikuti kemana pun kita pergi. Mungkin pilihan yang arif adalah, tidak menjadikan itu sebagai tujuan utama. Hanya sekedar bonus, dari kerja keras kita. Prediksi saya, apa dan bagaimana aliansi harus dibentuk, akan menjadi diskusi panjang yang mengiringi perjalanannya.

Dalam situasi seperti ini, aliansi tidak saja mendapatkan tantangannya secara vertikal, dengan pengambil kebijakan, namun juga horisontal, sesama serikat buruh bersama aliansinya.

Semakin mendalami, semakin membuat saya terusik. Kali ini tentang beberapa pandangan/penilaian dari pengurus di tingkat basis (unit kerja) tentang aliansi. Semakin kebawah (akar rumput gerakan buruh), ternyata semakin memiliki kejujuran dan keikhlasan untuk membuat perubahan. Berikut adalah beberapa pandangan dan juga pendalaman dari mereka yang sempat tercatat oleh saya:

1. Ada kesadaran yang tinggi, bahwa kelemahan serikat buruh saat ini karena terfragmentasi. Sehingga mereka tidak memiliki posisi tawar, mudah diombang-ambing, seperti buih di tengah laut. Apalagi, bila kemudian terfragmentasinya gerakan itu dimafaatkan pihak lain dengan melakukan politik belah bambu. Membenturkan serikat buruh yang satu dengan serikat buruh yang lainny. Aliansi adalah jawaban fundamental atas semua itu. Sebagaimana slogan yang selalu mereka teriakkan, ”Buruh bersatu tak bisa dikalahkan.”

2. Ada keinginan yang sangat kuat dari pekerja/buruh di tingkat basis untuk bersatu. Hal ini terungkap dalam review yang dilakukan perserta atas pelaksanaan diskusi yang bertajuk ”Gerakan SP/SB Sebuah Strategi?” Mereka menginginkan para pimpinannya bersikap rendah hati, hanya semata membanggakan organisasinya, tidak tekotak-kotak, dsb. Beberapa diantaranya bahkan menghendaki agar dibentuk aliansi di tingkat basis.

3. Aliansi harus menjamin tumbuhnya budaya otokritik dari internal. Minimal, tingkat basis tahu apa maksud dan tujuan dibentuknya aliansi, dan diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya.

4. Waspadai para pembajak terhadap gerakan buruh. Orang-orang yang mengatasnamakan para buruh, berbicara yang sebetulnya bukan untuk kepentingan buruh. Beberapa pengurus di tingkat basis, bahkan mengeluh karena hanya dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan aliansi hanya ketika aksi. Ketika aliansi butuh massa untuk melakukan unjuk rasa. Sementara maksud dan tujuan mengapa sebuah aksi dilakukan tidak pernah disosialisasikan. Apalagi informasi pasca aksi itu dilakukan. Jadi, Aliansi hanya ada ketika ada aksi.

5. Membangun aliansi adalah membangun sistem. Keberadaannya tidak boleh menyandarkan diri pada individu. Pada tahap awal pembentukan, memang peran individu sangat besar. Namun setelah aliansi terbentuk, semua harus disandarkan pada mekanisme yang disepakati bersama oleh semua angota aliansi. Ini penting untuk memastikan bahwa aliansi didirikan bukan untuk kepentingan seseorang.

6. Aliansi hanya akan kuat, jika federasi (serikat pekerja/serikat buruh) kuat. Jadi adanya anggapan bahwa keberadaan aliansi akan mengancam keberadaan federasi adalah salah, sebab yang seharusnya terjadi justru sebaliknya. Federasi adalah pemilik anggota, oleh karena itu dengan sendirinya keberadaannya menjadi sangat penting.

7. Aliansi harus murni untuk kepentingan gerakan buruh:

– Selama ini masih terlihat, bahwa gerakan buruh dilakukan hanya untuk gerakan itu sendiri. Misalnya, setelah melakukan aksi unjuk rasa besar-besaran untuk menolak aoutsourcing, pengurus DPC tidak solid lagi. Sehingga ada anggapan, bahwa gerakan-gerakan yang dilakukan itu hanya untuk supaya pimpinan buruh dikenal dan meningkatkan posisi politisnya.

– Ada pengurus basis yang melihat bahwa pengurus DPC hanya mementingkan jabatan. Dia memanfaatkan aliansi agar dikenal. Hal ini terlihat, seperti, sifatnya yang tidak rendah hati dan tulus. Padahal yang mereka perjuangkan adalah orang-orang yang tertindas. Dalam kalimat lain: ”Mereka menari-nari di atas penindasan kaum tertindas, bukan pembebas kaum tertindas”.

8. Perubahan itu harus dari bawah, lalu dibawa ke atas. Dalam hal ini, peran pimpinan serikat buruh lokal menjadi sedemikian penting.

Medan, 28 Maret 2010
(Sebuah Catatan Hasil Diskusi di Medan, Sumatera Utara)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s