Dimana Letak Keadilan Itu?

Adalah sebuah kebanggaan tersendiri bisa mendapatkan pekerjaan. Apalagi bila ini merupakan pekerjaan perdana, setelah sekian lama lontang-lantung mencari kesempatan kerja yang semakin sulit didapatkan.

Membayar? Tak jadi soal. Rasanya, jauh lebih terhormat bisa bekerja dengan sedikit upah daripada tidak sama sekali.

Dan itulah yang ada dalam pikiran Anton (bukan nama sebenarnya), ketika menandatangani surat perjanjian kerja, dengan status kontrak selama 6 bulan. Upah tidak lebih dari UMK dan akan dipotong bila tidak masuk kerja, apapun alasannya.

Pemuda lulusan salah satu SMK di Serang itu bisa membayangkan bagaimana ia akan disambut orang tuanya dengan bangga sore nanti. Ya, hari ini ia akan memulai hari-hari yang lebih berarti. Setelah menandatangani perjanjian kerja, pagi tadi, ia diminta langsung bekerja.

Keesokan harinya, petaka itu datang. Anton baru saja memasuki gerbang pabrik ketika orang yang membawanya ke sebuah pabrik itu memintanya agar segera melunasi sejumlah uang sebagai balas jasa karena sudah berhasil masuk bekerja.

Karena memang tidak mempunyai uang yang totalnya mencapai 3 bulan gajinya itu, Anton berjanji akan membayarnya beberapa hari lagi. Namun laki-laki itu tetap bersikeras, agar Anton membayar hari itu juga.

Perdebatan pun terjadi. Bahkan untuk menyakinkan sang calo, Anton bersedia membuat kesepakatan tertulis, bahwa dirinya akan segera membayar si calo, segera setelah mendapatkan pinjaman.

Dan, jawaban inilah yang diterima…

“Ya sudah, kalau kamu tidak bisa membayar sekarang, anak ini yang akan menggantikan pekerjaanmu. Dia uangnya sudah siap…,” sambil menunjuk pemuda dengan seragam hitam putih yang dari tadi terdiam.

Anton tertunduk lesu. Ia tidak bisa berbuat apa-apa, ketika sang calo mengajaknya menemui personalia dan merekomendasikan pergantian pekerja. Selanjutnya, hanya kurang dari 10 menit, Kartu Karyawan yang baru sehari kemarin dipakainya sudah berganti nama.

Tidak berperikemanusiaan.

Sangat tidak adil.

Sebuah praktek curang hubungan industrial yang harus segera diakhiri.

* * *

Belum lama ini, teman saya, yang juga seorang aktivis serikat pekerja di PT. PP menceritakan kisah yang hampir sama.

Karena merasa mempunyai keahlian, istri teman saya itu melamar bekerja di PT. WP. Nalurinya ternyata benar. Setelah melalui serangkaian tes, ia diterima bekerja di perusahaan pembuat sepatu tersebut. Tanpa mengeluarkan sepersen pun biaya untuk memuluskan usahanya.

Tetapi kebahagiaannya mendapatkan pekerjaan hanya dengan semata-mata mengandalkan keahliannya tidak berlangsung lama. Selang beberapa hari kemudian, di depan gerbang perusahaan ia didatangi seseorang dan menanyakan siapa yang “membawa” sehingga bisa diterima bekerja. Dengan bangga Ibu satu anak ini mengatakan bahwa dia melamar langsung, tidak melalui perantara siapapun juga.

Namun dari sinilah semua itu berawal. Lelaki itu mendesak Lastri, nama istri teman saya itu, untuk memberikan uang sejumlah 1,5 juta bila masih ingin tetap bekerja. Bila tidak, posisinya akan diganti dengan karyawan baru.

“Semua karyawan yang bekerja di sini membayar. Tidak terkecuali kamu …,” rangkaian kalimat yang terdengar kasar. Sedikit mengancam.

Kini tinggal memilih. Menuruti kemauan lelaki itu, dan Lastri tetap bekerja. Atau menolaknya, kemudian secara perlahan namun pasti kehilangan pekerjaan.

Setelah berkonsultasi dengan Suami, akhirnya wanita itu memilih untuk kehilangan pekerjaan. Rasa kemanusiaannya teriris saat mengetahui bahwa keahliannya tidak berharga sama sekali untuk mendapat sebuah pekerjaan.

Apalagi saat ia mengadukan ke Manajemen soal ancaman itu, pihak perusahaan pun angkat tangan.

“Kami juga menghadapi masalah yang sama…,” jawab Sarjana Hukum jebolan universitas ternama itu seolah tanpa dosa.

* * *

Sampai hari ini saya masih sulit untuk memahapi dua peristiwa itu. Bayangkan, disaat pemerintah dengan gigihnya mengkampanyekan bahwa Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketetangakerjaan sangat protektif dalam melindungi buruh dari ancaman PHK, tetapi yang terjadi di lapangan justru sebaliknya. Begitu mudahnya seseorang harus kehilangan pekerjaan, bahkan dengan alasan yang sulit untuk dinalar sama sekali.

Dimana letak hukum perburuhan dalam kasus ini? Dimana keberadaan para penegak hukum?

Dimana letak keadilan itu?

Entah, kata-kata apa lagi yang bisa dirangkaikan untuk mengungkap jeritan hati manakala mendapati seorang buruh harus kehilangan pekerjaan, padahal ia belum juga mempunyai masa kerja genap 24 jam.

2 thoughts on “Dimana Letak Keadilan Itu?

  1. rasanya didalam tex tadi tidak ada letak keadilan. dari semua peristiwa anda tadi saya mengambilkesimpulan bahwa hidup memang betul adil munkin mereka semuanya tidakmemiliki keahlian yang di maksud oleh sang pemilik perusahaan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s