Membangun Gerakan Serikat Buruh

”Bagaimana cara membangun sebuah aliansi yang kuat?” Seorang teman dari Sukabumi, mempertanyakan hal itu kepada saya di sela-sela Lokakarya Gerakan Serikat Buruh di GG House, Bogor (26-27/02/10).

Saya tidak segera menjawab. Bukan lantaran tidak mengerti maksud dari pertanyaan itu. Bisa saja saat itu saya menyebutkan lebih dari 10 teori agar aliansi serikat pekerja/serikat buruh menjadi kuat dan militan. Saya hanya berkata, bahwa kita tidak boleh berhenti dalam melangkah dan berupaya. Belajar dari Serang, Forum Solidaritas Buruh Serang (FSBS), dan juga Aliansi Serikat Pekerja/Serikat Buruh Serang (ASPSB) tidak dibangun dalam waktu satu malam.

Berbicara tentang Sukabumi, selalu menjadi perhatian menarik bagi saya. Kabupaten inilah yang beberapa waktu lalu menjadi pembicaraan hangat bagi kawan-kawan di Serang, terkait dengan adanya rumor bahwa PT. Nikomas Gemilang, perusahaan terbesar di Serang dengan jumlah karyawan mendekati 40 ribu, hendak memindahkan usahanya di sana. Alasannya, karena faktor upah yang lebih rendah. Saya sendiri belum pernah datang ke Sukabumi – mungkin suatu saat nanti, jika ada kesempatan – kendati Kamaludin, pengurus Konsulat Cabang FSPMI Kabupaten Serang yang asli Sukabumi, beberapa kali mengajak saya bermain ke rumahnya.

Menyatukan Gerakan Buruh: Belajar dari Pengalaman FSBS

Kembali ke soal aliansi, bagi saya, yang terpenting adalah kebijaksanaan. Bijaksana dalam berbagi peran, menentukan prioritas isu, juga dalam memahami karakteristik masing-masing SP/SB yang terlibat di dalamnya. Pekerjaan aliansi harus didedikasikan untuk mempersatukan gerakan buruh, bukan untuk menyatukan (menggabungkan dalam satu SP/SB).

Forum Solidaritas Buruh Serang (FSBS) memiliki ciri khasnya sendiri. Sebagai forum, organisasi ini bersifat lentur. Organisasi tidak dibangun dengan beragam aturan formal, kendati ada semacam kode etik yang menjadikannya bersatu. Dalam bahasa kami, setiap permasalahan yang muncul ”diselesaikan secara adat”. Ini seperti bercanda, namun sesungguhnya hal itulah yang menjadi rahasia, FSBS mampu bertahan sejak dideklarasikan pada tahun 1999.

Tidak berlebihan jika Abu Gybran, Koordinator FSBS periode 2003-2004 pernah melontarkan pernyataan, bahwa hanya di FSBS-lah mantan Presiden bisa menjadi menteri. Pernyataan ini merujuk kepada dirinya, yang diminta kembali masuk di dalam jajaran pengurus. Nilai-nilai solidaritas yang diimplikasikan dalam hubungan kekeluargaan inilah yang menjadikan semua fungsionaris FSBS seperti berada dalam sebuah keluarga.

Maka, tidak usah heran, jika sepanjang tahun 2009, di Sekretariat FSBS juga diselenggarakan pengajian. Bukan hanya dihadiri pengurus FSBS, namun beberapa relasi juga hadir bersama keluarganya. Senang saja menyaksikan istri/suami para aktivis buruh, lengkap dengan anak-anak mereka, berkumpul dalam satu ruang dan waktu. Untuk urusan ini, dipandu oleh Abu Gybran, tokoh buruh yang turut berperan serta dalam membesarkan FSBS.

Adakalnya, kami juga menyelenggarakan pelatihan menyulam dan kerajinan tangan lainnya, untuk para korban PHK. Pernah ada pemikiran besar, hasil karya mereka disalurkan melalui unit kerja (PUK) di seluruh Kabupaten Serang. Adalah Hariyati, aktivis FSPKEP dari Tanah Rencong (Aceh) yang memiliki inisiatif ini.

Beberapa kawan juga menyumbangkan tenaga dan pikirannya, mengadakan kursus bahasa Inggris, bahasa Arab, Komputer, menulis, dsb. Diskusi/pelatihan tentang hukum ketenagakerjaan? Itu pasti. Satu ketika, bahkan FSBS mengadakan pendidikan hukum ketenagakerjaan yang dilakukan setiap hari minggu dengan melibatkan berbagai serikat pekerja. Nara sumber, yang berasal dari internal FSBS, bahkan rela tidak dibayar untuk semua ini. Terkadang, idealisme harus diongkosi sendiri.

Belakangan, beberapa kawan NGO memfasilitasi berbagai pelatihan. Sebut saja SPIS, TURC, FPBN, DEMOS, dsb. Hal-hal seperti ini selalu menjadi oase di padang gersang bagi teman-teman di akar rumput, yang memang jarang sekali mendapat kesempatan untuk bisa hadir dalam sebuah pelatihan ”berkualitas”. Apalagi, bukan lagi rahasia umum, acara-acara seperti ini selalu ”dibajak” oleh para elit organisasi. Para pengurus DPC melanglang buana dalam satu seminar ke seminar lain, namun anggota tetap saja tidak memiliki pemahaman yang memuskan.

Agenda 2010

Tahun 2010 ini, Chaerudin Shaleh, Badan Pertimbangan Forum Solidaritas Buruh Serang, sudah mengingatkan saya agar menghidupkan lagi pertemuan rutin FSBS yang melibatkan pekerja dan keluarganya setelah sempat terhenti pada akhir 2009. ”Kawan, kita berada di lintas Anyer – Panarukan, tempat para pejuang pernah bertaruh nyawa demi kejayaan Republik ini. Semangat itu harus tetap menyala disini, di hati kita. Maka daripada itu, sepak terjang FSBS jangan pernah mati,” ujar pria yang mengaku lebih bangga memperkenalkan diri sebagai kader FSBS ini, dalam sebuah surat elektronik yang dikirimkan kepada saya beberapa minggu lalu.

Sejak awal 2010, kami memang berkonsentrasi untuk menggalang dana solidaritas untuk sewa Sekretariat FSBS yang baru. Kami berencana memindahkan Sekretariat FSBS ke Perum Bumi Cikande Indah, dengan pertimbangan harga sewa yang lebih murah. Senang saja, beberapa kawan sudah menyatakan kesanggupannya untuk tetap mendanai kebutuhan kesekretariat secara swadaya. Ada yang berkomitment untuk membayar tagihan listrik bulanan, ada yang berkomitment membayar tagihan air dan telepon, dan sebagian lain bersedia menanggung ATK. Untuk menunjang operasional FSBS, bahkan kami juga mengembangkan budidaya Jamur Tiram dan Koperasi Solidaritas.

Saya kira, hal-hal seperti itulah yang menjadikan hati dan emosional para pengurus FSBS semakin terpaut. Dan juga, dari seringnya bertemu, kami memiliki banyak energi untuk melakukan upaya besama. Melakukan berbagai upaya untuk mendorong penegakan hukum ketenagakerjaan, mendorong terbitnya Perda Ketenagakerjaan, hingga mengawal prosesi penetapan UMK.

Inilah pengalaman yang pernah kami alami dalam membangun gerakan buruh di Serang. Semoga bisa menghadirkan inspirasi, untuk terbentuknya aliansi-aliansi yang kuat di seluruh persada Nusantara. (*)

Kahar S. Cahyono: Aktivis Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI), Koordinator Umum Forum Solidaritas Buruh Serang & Sekretaris Aliansi Serikat Pekerja Serikat Buruh Serang (ASPSB). Saat ini aktif sebagai Editor Harian Online Kabar Indonesia, serta ikut mendukung terbentuknya Forum Aliansi Serikat Pekerja Serikat Buruh se-Indonesia

Iklan

Satu pemikiran pada “Membangun Gerakan Serikat Buruh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s