Pesona Sungai Musi

Bumi Sriwijaya selalu terkenang oleh saya. Bukan semata-mata istri saya berasal dari sana, namun juga, karena di Pelembang saya memiliki banyak cerita. Tempat wisata, juga makanan khasnya. Siapa yang tidak kenal empek-empek? Ini hanya salah satu, sebab diluar itu kita juga bisa menikmati panganan khas lain yang tak kalah lezat. Kerupuk kemplang, tekwan, pindang, celimpungan, bolu kojo, hingga kue delapan jam.

Oleh karenanya, selain berburu panganan, setiap kali mudik ke Palembang saya tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk bertamasya. Tempat favorit saya berlibur adalah Plaza Benteng Kuto Besak. Selain karena lokasinya tidak terlalu jauh dengan rumah mertua di Sei Gerong, Plaju, dari sana saya bisa menikmati pesona Jembatan Ampera. Kalau akan berkunjung ke tempat-tempat bersejarah seperti Masjid Agung Palembang, Museum Sultan Mahmud Badarudin II, Kantor Ledeng , dan Monumen Pancasila tidak begitu jauh. Ibaratnya, sekali jalan, banyak obyek wisata bisa kami kunjungi.

Lebaran tiga tahun yang lalu, 3 hari setelah hari H, pagi-pagi sekali saya dan istri sudah sampai di Plaza Benteng Kuto Besak. Kami hanya duduk-duduk pada pagar di tepian Sungai Musi. Tempat ini sangat nyaman untuk berjalan-jalan, karena nampaknya pemerintah setempat mengarahkan penataan kawasan ini sebagai proyeksi tempat hiburan terbuka yang menjual pesona sungai Musi dan bangunan-bangunan bersejarah di sekitarnya.

Dari tempat ini, saya memandangi jembatan gerak yang mulai dibangun pada bulan April 1962 itu. Saya membayangkan saat-saat bagian tengah jembatan masih bisa difungsikan sebagaimana dahulu. Ketika baru selesai dibangun. Dimana bagian tengah jembatan yang berat keseluruhannya mencapai 944 ton itu dapat diangkat, dan kemudian kapal besar dengan ukuran lebar 60 meter dan tinggi maksimum 44,50 meter bisa lewat mengarungi Sungai Musi. Sebuah pemandangan yang menakjubkan, kalau saja saya berkesempatan menyaksikan.

Namun sayang, gambaran itu hanya ada dalam bayangan. Sebab kenyataannya jembatan itu sudah tidak lagi dinaik turunkan. Meskipun ini tidak mengurangi keindahan rangkain besi yang berdiri kokoh menghubungkan Seberang Ulu dan Seberang Ilir.

“Dulu kawasan ini sangat kumuh, tidak tertata, dan dikenal banyak copetnya,” istri saya mengenang.

Namun bagi saya, orang Blitar, yang jarang sekali menginjakkan kaki di Kota Seribu Sungai ini tetap saja menilai tempat ini mempesona. Saya bisa membayangkan, dahulu Benteng Kuto Besak merupakan pusat pemerintahan yang maju dan eksostis. Betapa tidak, pada masanya, Kuto Besak dibatasi oleh sungai Sekanak di bagian barat, sungai Tengkuruk di bagian timur, dan sungai Kapuran di bagian utara. Keindahan itu semakin sempurna, karena benteng ini sendiri menghadap ke sungai Musi.

Apalagi ketika kemudian saya ketahui dari Wikipedia, bahwa Benteng Kuto Besak adalah bangunan keraton yang pada abad XVIII menjadi pusat Kesultanan Palembang. Gagasan mendirikan Benteng Kuto Besar di prakarsai oleh Sultan Mahmud Badaruddin I yang memerintah pada tahun 1724-1758 dan pelaksanaan pembangunannya diselesaikan oleh penerusnya yaitu Sultan Mahmud Bahauddin yang memerintah pada tahun 1776-1803. Sultan Mahmud Bahauddin ini adalah seorang tokoh kesultanan Palembang Darussalam yang realistis dan praktis dalam perdagangan Internasional serta seorang agamawan yang menjadikan Palembang sebagai pusat sastra dan agama di Nusantara. Menandai perannya sebagai sultan ia pindah dari Keraton Kuto Lamo ke Kuto Besak. Belanda menyebut Kuto Besak sebagai nieuwe keraton alias keraton baru.

Pada Perang Palembang 1819 yang pertama, benteng ini dicoba oleh peluru-peluru meriam korvet Belanda, tetapi tak satu pun peluru yang dapat menembus, baik dinding maupun pintunya. Akibat kehabisan peluru dan mesiu, maka armada Belanda tersebut melarikan diri ke Batavia. Dari sinilah lahir ungkapan, yang menyatakan pekerjaan yang sia-sia, karena tak mendatangkan hasil: Pelabur habis, Palembang tak alah, artinya perbuatan atau usaha yang tak rnemberikan hasil, hanya mendatangkan rugi dan lelah sernata. Peristiwa ini ditulis dengan penuh pesona dalam Syair Perang Menteng atau disebut pula Syair Perang Palembang.

Pengetahuan itulah yang membuat saya semakin bangga, bisa menyaksikan bukti sejarah kedigdayaan nenek moyang Nusantara tercinta.

Setelah hari menjelang siang, tempat ini mulai panas. Sayang sekali, tempat ini sangat terbuka. Sehingga sinar matarari tanpa ampun menyengat kepala. Saat itulah istri mengajak saya untuk melanjutkan kelana lebaran.

“Kemana?” Tanya saya.

Istri diam, seperti sedang berfikir. Beberapa saat kemudian berucap, “Bagaimana kalau kita naik ketek?” Ujarnya sampai menunjuk sejenis perahu motor di tengah Sungai Musi. Jilbabnya berkibar tertiup angin.

“Kemana?” masih dengan pertanyaan yang sama.

“Mengelilingi Sungai Musi. Terus ke Pulau Kemaro.”

Mendengar pulau Kemaro, saya semakin bersemangat. Dalam bayangan saya, pulau ini sangat tandus karena tidak pernah hujan (kemarau). Apalagi saat berada di tengah sungai, di atas ketek, menghasilkan sudut pandang yang sungguh menawan. Sungai Musi nan luas, rumah-rumah yang berjejer di tepian sungai, Pom Bensin, kapal tongkang, adalah pemandangan yang sulit untuk digambarkan dengan kata-kata. Kurang lebih satu setengah jam kemudian, ketek yang kami tumpangi berhenti di sebuah pulau kecil di delta sungai Musi. Ya, di tengah sungai inilah terdapat daratan yang disebut pulau Kemaro.

Menginjakkan kaki di pulau ini, tulisan selamat datang dan salam kesejahteraan menyambut di pintu gerbang. Nuansa Cina-Tionghoa menghipnotis saya. Kata istri, di pulau ini juga terdapat dua buah makam. Makam pertama adalah makam pemuda Cina. Sedangkan makam kedua adalah putri Raja Palembang bernama Siti Fatimah. Saya sendiri tidak sempat melihat makam itu.

Saya lebih tertarik pada sebuah pohon. Orang-orang menyebutnya pohon cinta. Dan, tulisan pada papan yang terletak di depan pohon inilah yang berkesan dihati saya: INILAH POHON CINTA, DILARANG MENAIKI, BERGELAYUTAN, DUDUK, BERCUMBU, BERMESRAAN, SELINGKUH DISEKITAR POHON CINTA, KARENA YANG NAIK, BERGELAYUTAN, DUDUK DI ATAS DAHAN POHON HANYALAH MONYET.

Saat kami kembali ke Plaza Benteng Kuto Besak, hari sudah senja. Terlihat dari sini, Jembatan Ampera semakin eksostis terlihat di sore hari. Cahaya dari deretan lampu-lampu taman menciptakan refleksi warna kuning pada permukaan sungai. Indah sekali.

Sungguh, pesona Sungai Musi tidak akan pernah saya lupakan. Saya beruntung bisa menyusurinya siang itu. Terlebih lagi, saya merasa sangat beruntung bisa mempersunting putri Bumi Sriwaijaya. Sebab dengan begini, tahun depan terbuka kesempatan untuk datang kembali. (Kahar S. Cahyono)

Posted in Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s