Bicaralah Warga Bekasi

Perempuan itu menyambut kedatangan saya dengan wajah cerah. Jam baru saja menunjukkan pukul 4 sore ketika saya berkunjung ke kontrakannya. Sebut saja dia Ratna. Istri Roni, teman saya, yang pertamakali mengajak saya mencari pekerjaan di Bekasi.

“Mari masuk. Tapi mas Roni belum pulang, mungkin sebentar lagi” katanya kemudian. Sore itu saya menyempatkan diri datang ke Bekasi setelah mengikuti demonstrasi di gedung MPR/DPR untuk menolak Asean-China Free Trade Agreement (ACFTA), Kamis, 28 Januari 2010.

Benar saja, tak berapa lama kemudian, Roni datang. Seperti layaknya kawan yang lama tak bertemu, kami saling berpelukan. Bertanya kabar, dan sesaat kemudian terlibat dalam perbincangan yang tak berujung pangkal.

Entah darimana awalnya, kami terlibat dalam perbincangan tentang dampak buruk ACFTA terhadap kehidupan masyarakat.

“Saat ini perusahaan tempat saya bekerja sudah melakukan efisiensi besar-besaran. Kabarnya order yang diterima menurun tajam,” ujar Roni, sambil menyeruput kopi panas yang baru saja dihidangkan sang istri.

“Tapi kan masyarakat juga yang akan diuntungkan, karena bisa mendapatkan harga dari barang-barang Cina dengan lebih murah.”

“Ah enggak juga, Mas. Meskipun murah, tapi masyarakat tidak lagi memiliki uang karena banyak industri nasional, tempatnya bekerja, gulung tikar dan mem-PHK karyawannya,” Ratna menimpali.

Saya tersenyum. Senang saja menyaksikan suami istri ini begitu peduli dengan permasalahan yang terjadi di sekitarnya. Kendati ia tidak tahu secara pasti, bahwa perjanjian kerjasama dibidang perdagangan itu telah ditandatanggani sejak 5 Nopember 2002, dam prosesnya juga sudah berjalan secara bertahap. Saat itu disepakati penurunan atau penghapusan tarif bea masuk akan dibagi 3 tahap. Pada tahap pertama dikhususkan untuk komoditas yang dimasukkan ke kelompok Early Harvest Programme (EHP) yang dimulai 1 Januari 2004, dan memasuki 1 Januari 2006 bea masuknya sudah 0%. Hanya, memang, persoalan tentang ACFTA belum tersosialisasi secara maksimal, sehingga pengusaha kalang kabut dibuatnya.

“Makanya, hari ini saya ikut demonstrasi menolak ACFTA di MPR/DPR. Saya juga bergabung di Komunitas Blogger Bekasi, untuk menyuarakan permasalahan ini secara intensif. Juga memberikan pemahaman kepada warga, menyampaikan aspirasi dan memberikan solusi. Siapa tahu ada pembuat kebijakan di Bekasi yang membaca ..”

“Percuma, Har. Hanya buang-buang waktu dan biaya. Sudah tidak ada yang bisa dipercaya lagi di negeri ini. Lagian, mana bisa menulis di blog akan mengubah permasalahan yang ada?” ujar Roni, dengan senyum sinis.

* * *

Pertemuan saya dengan Roni mengingatkan kepada pernyataan Michael Lerner. Bahwa masyarakat harus keluar, dari apa yang disebut sebagai “tuna kuasa”. Kata Lerner, anggapan atau persepsi tuna kuasa dapat menimbulkan berbagai efek negatif dalam kehidupan sosial. Anggapan tuna kuasa menyebabkan seseorang tidak ingin mengadakan perubahan yang seharusnya dapat dilakukan. Berbagai kekurangan, ketidakadilan, dan penyewengan kekuasaan dipandang sebagai “kenyataan”. Karena kenyataan, ada rasa khawatir akan kalah, tersingkir, dan dikesampingkan orang lain. Kekhawatiran ini akan terbukti dan menjadi self-fullfilling prophecy ketika orang bertindak selaras dengan anggapan dan rasa khawatir tersebut.

Saat sebagian orang optimis bahwa banyak cara untuk memperjuangkan perbaikan. Mereka – yang memiliki rasa tuna kuasa – justru beranggapan bahwa pintu sudah tertutup rapat. Gelap gulita. Tidak ada lagi cahaya.

* * *

Tahun 2001, wartawan Inggris, John Pilger, memotret kehidupan buruh, setelah Indonesia keluar dari kediktatoran orde baru. Laporan itu ditulisnya dalam sebuah buku, “The New Rullers of the World”. Pilger bercerita tentang Indonesia sebagai contoh dari globalisasi tentang sebuah negeri yang pernah disebut murid terbaik Bank Dunia. Globalisasi membuat dunia hanya selebar daun ‘kelor’: keputusan investasi di New York bisa membuat buruh di Indonesia menganggur. Sementara keputusan pemilik modal di London, bisa membuat Korea Selatan kebanjiran order. Dan semua ini, kita ketahui melalui tulisan seorang wartawan, John Pilger.

Meminjam kalimat Nezar Patria, Ketua Umum Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, para buruh kerap menjadi statistic. Angka-angka berderet. Tapi, tak tertangkap apa yang ada dibaliknya: cerita tentang kerja produksi dengan keringat, dan air mata. Jurnalisme bertanggungjawab membuat kehidupan kelas pekerja menjadi lebih baik dengan memeriksa kembali kebijakan, atau mungkin kritik sosial.

“AJI hendak menarik perhatian media, dan juga jurnalis, melaporkan sektor perburuhan yang penting ini dengan lebih intens, dan berkualitas,” ujar Nezar dalam kata pengantarnya di buku Hujan Batu Buruh Kita – Kumpulan Liputan Perburuhan.

Blogger, sebagai bagian dari Citizen Journalism, bisa jadi memiliki semangat yang sama dengan Nezar Patria. Dalam kalimat lain, salah besar jika ada yang mengatakan bahwa blogger, tidak memberikan sumbangan apa-apa bagi bangsa dan negara.

* * *

Pada akhirnya, Bicaralah Warga Bekasi, adalah sebuah seruan. Seruan untuk mengusung spirit lokal ke area yang lebih luas. Seruan untuk mengajak segenap lapisan masyarakat Bekasi untuk lebih peduli. Bukan hanya diam. Namun juga berkonstribusi, sekecil apapun wujudnya.

Perubahan adalah keniscayaan. Dan itu bukanlah sesuatu yang mustahil untuk diupayakan. Lahirnya Komunitas Blogger Bekasi, misalnya, harus dimaknai sebagai upaya untuk ikut serta mengupayakan perubahan ke arah yang lebih baik. Sebuah upaya membuka kanal-kanal baru, untuk menghindari tersumbatnya aspirasi.

Bagi pemerintah daerah, BeBlog aksana dermaga. Pemda bisa memantau, informasi yang paling up to date dan aspirasi terkini, langsung dari masyarakatnya. Tanpa sensor. Tanda tendensi apapun, selain luapan rasa cinta terhadap Bekasi.

Tentu saja, BeBlog bukan satu-satunya. Masih banyak cara lain yang bisa kita lakukan. Bila ini dipahami, niscaya tidak ada lagi yang memiliki pemahaman seperti teman saya, Roni. Yang berpendapat bahwa perubahan ke arah yang lebih baik sudah terkubur di dalam peti mati. (*)

Kahar S. Cahyono, Praktisi Ketenagakerjaan.

Iklan
Dikirimkan di Tak Berkategori

Satu pemikiran pada “Bicaralah Warga Bekasi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s