(Cerpen) Pesan Tarjo Pada Cucunya

Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta.

Detik-detik proklamasi, 65 tahun silam. Tepat jam 10 pagi.

”Saudara-saudara! Dengan ini kami menyatakan kebulatan tekad itu. Dengarkanlah proklamasi kami.” Kalimat pengantar yang diucapkan oleh Ir. Soekarno terdengar tegas. Penuh keyakinan. Ribuan yang hadir terdiam. Tidak satu pun ada yang berbicara. Hatinya tergetar. Sebentar lagi kita akan merdeka, batinnya. Dan benar saja, sesaat kemudian, proklamasi itu dibacakan.

PROKLAMASI

Kami bangsa Indonesia, dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoesaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo tjang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 45

Atas nama bangsa Indonesia
Soekarno – Hatta

”Demikianlah Saudara-saudara! Kita sekarang telah merdeka. Tidak ada satu ikatan lagi yang mengikat tanah air kita dan bangsa kita! Mulai saat ini kita menyusun negara kita! Negara merdeka! Negara Kesatuan Republik Indonesia merdeka, kekal dan abadi. Insya Allah, Tuhan memberkati kemerdekaan kita itu,” Bung Karno berpidato.

Saat bendera merah putih dikibarkan oleh Suhud dan Latif Hendraningrat, tangis bahagia membahana. Bagi Tarjo, ini tangis pertama di atas tanah air yang merdeka. Air matanya mengalir begitu saja. Tanpa direncanakan, tanpa diminta.
***

Tahun 2009, pada saat detik-detik proklamasi diperingati. Untuk yang ke-65 kali.

Tepat jam 10 pagi.

Menangis lagi.

Setiap tahun, sejak proklamasi dibacakan, Tarjo selalu menangis. Persis saat detik-detik proklamasi diperingati. Ya, hari kemerdekaan itu telah memberinya banyak energi. Membuat Tarjo merasa kembali muda lagi. Bahkan lelaki tua itu masih bisa merasakan kedua kakinya berpijak di pelataran rumah Bung Karno yang terletak di Jalan Pegangsaan Timur waktu itu. Mungkin karena terkenang nostalgia itulah, tak terasa air mata Tarjo menganak sungai di pipi. Air mata bahagia.

Namun kali ini, setelah yang ke-65 kali, bukan tangis bahagia. Sama sekali bukan. Entah tangis apa. Barangkali Tarjo sudah terlalu tua untuk menitikkan air mata? Atau memang orang yang telah berusia senja, tidak layak mengenyam bahagia?

Kata siapa orang tua tidak boleh bahagia?

Bukan kata siapa-siapa. Sebab Tarjo mengalaminya sendiri. Saat ini juga. Saat detik-detik proklamasi membahana ke pelosok negeri melalui siaran radio dan televisi.

Mengapa?

Sama saja, pikirnya. Kebanggaan sebagai pelaku sejarah, yang setiap malam diceritakan kepada anak cucu, mendadak sirna. Tarjo kehilangan kepercayaan diri. Apalagi ketika menyadari generasi kini, mulai enggan memaknai kemerdekaan dengan beragam kegiatan yang berarti.

Agustusan itu?

Tanyakan sendiri pada Tarjo. Maka lelaki itu akan bilang, agustusan sekarang tidak lebih dari rutinitas yang dipaksakan. Lebih sebagai ajang meminta sumbangan, dengan berkedok untuk memperingati HUT RI. Agustusan bukan lagi untuk mengenang…. Agustusan berubah menjadi bulan untuk bersenang-senang. Menggelar ndangdutan dan organ tunggal hingga larut malam, sambil menengak bir dan nyawer di panggung hiburan. Sementara dirumah, anaknya menangis kelaparan.

Itukah makna kemerdekaan?

Persetan dengan omongan orang. Bagi Tarjo, Indonesia sudah merdeka. Titik. Dia sendiri ikut menyaksikannya. Dia juga, bersama teman-temannya, menjadi saksi sejarah pergolakan dalam mempertahankan kemerdekaan.

Tarjo menyaksikan sendiri, bagaimana proklamasi dibacakan. Bagaimaan peristiwa Bandung Lautan Api terjadi. Aksi kepahlawanan Mohammad Toha. Bahkan ia harus rela kehilangan tangan kirinya akibat ditembus peluru, juga dalam kesempatan itu.

Jadi, kalau hari ini ada yang mengatakan Indonesia belum benar-benar merdeka, itu bukan salahku, pikir Tarjo. Barangkali satu-satunya kesalahan Tarjo adalah, mengapa ia masih hidup sampai sekarang. Coba kalau mati di tahun empat lima. Mungkin tidak perlu merasakan terjajah untuk yang kedua kali, setelah Proklamasi di Peganggsaan Timur waktu itu. Mungkin namanya saat ini terukir indah di buku-buku sejarah. Sebagai pahlawan kemerdekaan.
***

Detik-detik proklamasi.

Tepat jam 10 pagi.

Menangis lagi. Untuk yang ke-65 kali.

Di usianya yang semakin senja, kemerdekaan ini semakin tidak bermakna.

Dalam sebuah berita dibaca, hukum yang berlaku di Indonesia 80% masih hukum Belanda. Beban hutang Indonesia lebih dari 1.400 trilliun. Puluhan juta orang hidup dalam kemiskinan. 40 juta menganggur, 3 juta diantaranya sarjana. 4,5 juta anak putus sekolah, kriminalitas terus meningkat. Buruh kontrak dan outsourcing merajalela, jutaan buruh diupah murah oleh majikan.

Tarjo menangis tergugu. Apalagi saat diketahuinya kota Bandung, yang dulu di tempat itu hidup dan matinya dipertaruhkan, kini menjelma beda. Bukan lagi semangat kepahlawanan dengan Bandung Lautan Api-nya, tetapi lebih populer dengan Bandung Lautan Asmara yang sempat mengegerkan nusantara.

Sebulan yang lalu, tempat tinggalnya digusur paksa. Tanpa ada kepastian hendak pindah kemana….

Ingin sekali Tarjo marah.

Sayang dia sudah tua!

Kalau saja masih muda?

Aku akan angkat senjata. Berjuang lagi, untuk yang kesekian kali…

Beberapa hari lalu, cucunya bercerita kalau ia sedang mengikuti kompetisi menulis di kalangan blogger yang diselenggarakan Djarum Black. Ini tentu pengecualian. Apalagi, kompetisi ini dimaksudkan untuk menemukan generasi baru yang lebih expressive, speak up their opinion, care to their surroundings, and creative.

Tarjo hanya berpesan, agar Djarum Black Blog Competition bisa melahirkan Black Community yang creative. Bisa memanfaatkan perkembangan yang sangat pesat pada komunitas blogger di Indonesia untuk mengkampanyekan rasa cinta pada Indonesia. Menggelorakan gerakan cinta baca, dan memanfaatkan kemajuan teknologi internet untuk hal-hal yang positif dan sehat.

***

Hari ini, ketika detik-detik proklamasi dibacakan, saat peringatan hari kemerdekaan di halaman kantor kecamatan, Tarjo jatuh pingsan. Lelaki tua renta itu lelah menunggu perubahan.

Upacara tetap dilanjutkan. Seolah tidak terjadi apa-apa. Tidak ada yang ambil peduli, kecuali hanya bisik dan puluhan pasang mata yang menatap penuh arti. Hanya sekelompok remaja dengan seragam PMI, yang sigap menjalankan tugasnya. Menggotong Tarjo ke pinggir lapangan.

Setelah seseorang memeriksa denyut nadinya, dia berkata pelan, ”Kakek ini sudah mati!” (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s