(Cerpen) Sumbangsih Black Community pada Kejayaan NKRI

Hari masih pagi ketika aku menyalakan komputer. Bukan untuk melanjutkan menulis skripsi yang sudah tujuh bulan belum juga selesai. Beberapa hari ini, ada dorongan yang sangat besar dalam diriku untuk membuka Facebook. Aku sedang terlibat dalam sebuah perdebatan panjang di jaringan sosial dalam dunia maya ini.

Hendra: selamat pagi Negeriku yang gemah ripah loh jinawi. Aku bangga dan bahagia bisa melihatmu pagi ini. Mataharimu memancar cerah, menebarkan aura penuh pesona…

Barusan adalah hasil postinganku di facebook. Sebuah ekspresi, yang sebenarnya lebih aku tujukan untuk penyemangat diri. Sebagaimana yang sering dinasehatkan oleh para ahli psikologi, agar kita mengawali setiap runitinas harian dengan berpikir positif. Sebab pikiran positif adalah energi yang akan menggerakkan langkah kita untuk menggapai kesuksesan.

Lagipula, abad ini, internet sudah menjelma menjadi dunia tersendiri. Orang-orang menyebutnya dunia maya. Apapun bisa kita lakukan disini. Berdiskusi, membeli barang-barang yang kita butuhkan, bahkan wakuncar bersama pacar bisa kita lakukan secara online. Aku sempat berfikir, kalau saja suatu saat nanti dunia maya memiliki bupati, gubernur,bahkan presidennya sendiri.

Belum juga genap lima menit, komentar pertama masuk.

Nurul Auriza: Apa kabar den bagus Hendra? Sedang apa?

Hendra: Sedang buka facebook. Ditemani dengan sebatang Djarum Black dan segelas kopi. Hidupku terasa sempurna. Dalam redaksi yang lain, aku sedang terpesona pagi ini…

Nurul Auriza: Siapa gerangan yang telah mempesona dikau pagi ini. Hmmm, sebentar aku tebak ya…

Hendra: tidak perlu mencari jauh-jauh, orang yang mempesona hatiku sudah datang. Bahkan tanpa diundang.

Nurul Auriza: siapakah gerangan?

Hendra: siapa lagi kalau bukan si cantik Nurul Auriza, yang muncul secara tiba-tiba untuk menanggapi statusku.

Nurul Auriza: Eh, kejebak gua. Awas lo ya?

Nurul Auriza adalah teman sekolahku di SMKN 1 Blitar. Hanya saja, kami beda jurusan. Nurul mengambil study Elektronika Komunikasi, sementara aku di Bangunan Gedung. Mungkin karena itulah kami menjadi sangat dekat. Berasal dari almamater yang sama. Merasa memiliki kesamaan riwayat. Kalau Nurul memosting sesuatu dalam statusnya, aku selalu memberikan komentar. Begitu juga sebaliknya.

Kali ini, aku membiarkan tanggapan Nurul Auriza menggantung begitu saja. Kalimat terakhir Nurul, ”Awas lo ya!” sangat indah terserap dihatiku. Ada sesuatu yang meluap-luap membaca tulisan itu. Ingin tumpah rasanya. Kalau toh Nurul menganggap pernyataanku serius, itu memang yang aku inginkan. Nurul Auriza memang mempesona. Namun kalau ternyata ia menganggap semuanya sebagai sebuah canda, toh aku tidak rugi apa-apa.

”Indonesia sudah tidak lagi gemah ripah loh jinawi, bung! Apakah kamu tidak dengar, bahwa angka kemiskinan dan pengangguran di negeri ini cukup besar? Tahukah kamu, bahwa korupsi merajalela, penegakan hukum dan keadilan sudah lama hilang di negeri ini!” Sebuah komentar tiba-tiba muncul dibawah postingan Nurul Auriza. Aku tertegun. Butuh beberapa kali membaca sebelum memahami benar, kemana arah pernyataan dari seseorang yang menamakan dirinya Peduli Indonesia.

Aku mulai mengetik, ”Sumber daya alam kita melimpah, bung. Saya tegaskan lagi, negeri ini pantas menyandang julukan gemah ripah loh jinawi. Fakta ini harus disyukuri, jangan dipungkiri. Komoditi minyak sawit (crude palm oil/CPO) Indonesia kini menduduki peringkat pertama. Tahukah anda, Indonesia adalah pengekspor terbesar gas alam kedua di dunia. Indonesia memilili 60 ladang minyak, 38 diantaranya telah dieksploitasi, dengan cadangan sekitar 71 miliar barel minyak dan 332 triliun kaki kubik (TCF) gas. Kapasitas produksinya baru sekitar 0,48 miliar barel minyak dan 2,26 triliun TCF.”

Belum juga ada tanggapan, aku sudah memposting kembali, ”Tingkat keanekaragaman hayati Indonesia terbesar kedua didunia setelah Brasil.”

”Blog Cepu, misalnya, menghasilkan sekitar 200.000 barel per hari. Jika harga minyak 60 dolar AS/barel, maka dalam setahun akan menghasilkan dana 43,2 triliun. Kamu tahu betapa besarnya dana itu?” kali ini postingan ketiga, secara berturut-turut. Aku yakin, dengan ketiga jawaban ini berhasil membungkam orang yang mengklaim dirinya sebagai Peduli Indonesia.

Buktinya, sampai aku ofline, tidak ada jawaban dari seberang. Syukurlah, berarti si Peduli Indonesia itu sudah mengerti. Dia memang harus sadar, bahwa negeri ini laksana zamrud di khatulitiwa, jangan seenaknya sendiri kalau ngomong.

Namun, ketika sore hari aku kembali membuka facebook, dua orang sudah mengomentari statusku. Komentar pertama dari Nurul Auriza. ”Saya sepakat dengan mas Peduli Indonesia. Banyak fakta yang menunjukkan, bahwa masyarakat yang tinggal di daerah pertambangan hidupnya memprihatinkan. Bacalah karya Andrea Hirata, disana digambarkan dengan indah bagaimana kondisi Belitong setelah tambang timah lumpuh. Contoh lain, lihatlah Kalimantan Timur, jumlah penduduk miskinnya naik 2,8% pada tahun 2001 dibandingkan tahun 1999 (data BKKBN). Padahal daerah tersebut merupakan daerah pertambangan.”

”Mbak Nurul memang cerdas. Data BPS saja menunjukkan bahwa 18,5 juta rumah tangga dalam kondisi miskin. Perlu anda ingat, bung, semua hasil kekayaan alam yang kamu sebutkan tadi tidak sepenuhnya dikelola oleh negara kita, namun sebagian besar dikelola oleh asing. Freeport, Newmont dan BHP menguasai emas, perak, tembaga, dan nikel. Para pengusaha asinglah yang diuntungkan, mereka mengeruk sumber alam Indonesia!” Tulis Peduli Indonesia dengan penuh kemenangan.

Disusul dengan postingan Nurul selanjutnya, ”Benar mas. Lanjutkan!”

”Bangun dari mimpi indahmu, kawanku Hendra. Indonesia perlu diselamatkan dengan segera, bukan hanya dipuja dan dipuji.”.

Aku geram sekali membaca kedua komentar itu. Nayata-nyata kalimat itu bernada menyerang. Memojokkan. Lebih-lebih, ketika mengetahui posisi Nurul Auriza berseberangan denganku. Jangan-jangan kedua orang ini telah bersekongkol. Tiba-tiba perasaan cemburu menyergapku. Nurul Auriza-ku begitu akrab dengan si Peduli Indonesia itu.

”Indonesia adalah tumpah darahku. Kebanggaanku! Kalian boleh berganti kewarganegaraan kalau tidak puas hidup dipelukan ibu pertiwi,” aku menjawab demikian. Ini adalah puncak kemarahanku. Mudah-mudahan saja dia mengerti.

Sial! Peduli Indonesia sedang online, buktinya, tidak sampai satu menit sudah awa jawaban. ”Anda ternyata bermental inleader, Hendra. Suka memuja dan memuji, hanya agar ibu Pertiwi senang. Kalau sikapku jelas, aku ingin agar kedaulatan ekonomi dan politik bangsa ini berada di genggaman anak bangsanya sendiri,”

Aku bermental inleader? Tahukah dia, bahwa kata itu ditempatkan dalam kalimat yang tidak tepat? Aku haru segera memberikan hak jawab. Ini penting bagiku, karena kalau komentar-komentar itu aku biarkan, maka kredibilitasku dihadapan 3 ribu lebih teman di facebook bisa berantakan.

Baru saja mengetik beberapa kata, tiba-tiba listrik padam. Aku panik, karena pada saat yang bersamaan aku juga sedang memasak nasi menggunakan magic comp. Padamnya listrik berpotensi menggagalkan makan malam.

Beruntung, tidak lebih 30 menit, listrik kembali menyala. Namun, justru inilah awal dari bencana. Sebab ketika aku kembali menghidukan komputer, tidak bisa. Aku ulangi kembali, untuk memastikan sudah memencet tombol dengan benar. Namun tetap saja gagal.

”Apa gara-gara pemadaman listrik tadi sehingga ada salah satu komponen dalam komputer yang terbakar?” Aku mulai menduga. Tertunduk lesu di lantai, saat membayangkan bahwa itulah yang terjadi. Kalau itu benar, maka pengeluaranku bulan ini akan bertambah besar karena harus membeli komponen yang rusak.

Ditengah kebimbangan itu, baru aku sadar, bahwa memang banyak hal yang harus diperbaiki dari negeri ini. Ternyata hanya karena listrik, bangsa ini tidak benar-benar berdaya. Apalagi koran lokal hari ini memberitakan, bahwa pemadaman bergilir yang diperlakukan di Banten, membuat perusahaan merugi hingga miliaran rupiah. Lebih meyebalkan lagi. karena tersendatnya suplay listrik, komputerku rusak. Tidak bisa dipakai.

Pada konteks ini, apa yang dikatakan Nurul dan Peduli Indonesia bisa jadi benar. Indonesia kaya raya, namun miskin. Potensi kekayaan alam yang berlimpah itu belum bisa dimanfaatkan secara optimal. Masalahnya adalah, apakah pengakuanku ini harus kutulis dalam facebook?

Tak berapa lama kemudian, aku sadar, bahwa saat ini aku sedang mengkuti Djarum Black Blog Competition. Barangkali, melalui ajang kompetisi para blogger yang cukup bergengsi ini, aku bisa ikut mengkampanyekan pentingnya mengembalikan makna Sumber Daya Alam bagi kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia. Tentu saja, ini sebagai bentuk kepedulian dan komitment Black Community terhadap masa depan NKRI yang kita cintai.

Iklan

Satu pemikiran pada “(Cerpen) Sumbangsih Black Community pada Kejayaan NKRI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s