Penataran yang Menawan

Dalam postingan lomba menulis blog yang diselenggarakan Djarum Black kali ini, saya sengaja membahas tentang Candi Penataran. Candi ini menjadi salah satu tempat favorit yang saya kunjungi ketika pulang ke Blitar. Entah mengapa, candi peninggalan Majapahit itu memiliki daya tarik tersendiri bagi saya. Nuansa eksostis memancar dari tumpukan batu yang tersusun rapi, juga ketika saya turun ke kolam, yang konon tempat mandi permaisuri Raja Jayanegara.

Lokasi Candi Penataran terletak di lereng barat-daya Gunung Kelud pada ketinggian 450 meter dpl (di atas permukaan air laut), di desa yang juga bernama Panataran, Kecamatan Nglegok, Blitar. Di desa Penataran terhampar areal persawahan, sejuk dipandang, lengkap dengan penduduknya yang ramah. Mengingatkan kita pada Djarum Black Menthol dan sosok SPG yang senyumnya selalu merekah.

Sore itu, saya melanjutkan perjalanan ke Candi Penataran dari Istana Gebang. Cerita perjalanan saya di Istana Gebang bisa dibaca dalam artikel berjudul Blitar Dalam Kenangan. Hanya membutuhkan waktu setengah jam dari Istana Gebang untuk sampai ke tempat ini.

Memasuki areal Candi, di pintu utama kami disambut dua buah arca penjaga pintu atau disebut dengan Dwaraphala yang dikalangan masyarakat Blitar terkenal dengan sebutan “Mba Bodo”. Yang menarik dari arca penjaga ini bukan karena arcanya yang besar, namun karena wajahnya yang menakutkan (Daemonis). Pahatan angka yang tertera pada lapik arca tertulis dalam huruf Jawa Kuno : tahun 1242 Saka atau kalau dijadikan Masehi menjadi tahun 1320 Masehi.

Berdasarkan pahatan angka yang terdapat pada kedua lapik arca, bahwa bangunan suci palah (nama lain untuk Candi Panataran) diresmikan menjadi kuil negara (state-temple) baru pada jaman Raja Jayanegara dari Majapahit yang memerintah pada tahun 1309-1328 Masehi.

Hari sudah senja ketika kami memutuskan untuk meninggalkan Candi Penataran. Waktu terasa berjalan lebih cepat dari biasanya. Padahal kami masih belum puas menjelajahi setiap tempat wisata kota kenangan ini. Mengagumi keindahannya. Belajar dari pesan sejarah yang terkandung di dalamnya.

Saya menyadari kenangan itu tersimpan disini, di dalam hati. Itulah sebabnya, saya berharap, catatan ini bisa dikenang kembali oleh kedua anak saya, Fadlan dan Haya, saat ia sudah bisa ‘memahami’ dunia. (*)

Foto diambil dari SINI

2 thoughts on “Penataran yang Menawan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s