Blitar Dalam Kenangan

Lebaran 2009, saya mengajak istri dan anak-anak menyempatkan diri menyusuri kembali jalan-jalan yang pernah saya jejakkan saat masih remaja. Masa-masa saya menuntut ilmu di Kota Patria.

Tempat yang pertama kami kunjungi adalah SMKN 1 Blitar di Jalan Kenari, tempat dimana saya pernah menuntut ilmu. Senang saja menunjukkan kepada istri dan anak-anak, bahwa delapan tahun yang lalu saya pernah bersekolah disini.

Memandangi tower air yang menjulang tinggi ke angkasa, sebagai ciri khasnya, membuat saya teringat kembali masa-masa berseragam abu-abu putih. Terutama dengan teman-teman yang tergabung dalam Journalistic Technical High School, yang senantiasa dalam kekompakan mencari jati diri. Yang tidak pernah bosan menuangkan gagasan dan pemikiran-pemikirannya melalui Majalah Arsitek, majalah resmi sekolah kami.

Hari ini, saat menulis bagian ini, saya teringat Blackinnovationawards goes to campus. Teringat saat-saat menjejakkan kaki di SMKN 1 Blitar, bersaing menjadi yang terbaik, dan berkompetisi menjadi yang paling inovatif. Masih basah dalam ingatan, bagaimana saya harus bekerja keras, hingga akhirnya berhasil menjadi Juara 1 dalam Lomba Pidato Dienatalis SMKN 1 Blitar.

Saya kira, kerja keras (dan cerdas) adalah kunci keberhasilan. Hal yang sama saya lakukan sekarang, saat mengikuti lomba menulis blog yang diselenggarakan Djarum Black. Sebab, pada saat yang sama, saya juga mengikuti lomba menulis Blogger Bekasi dan Universitas Islam Indonesia.

Dari Jalan Kenari, saya melanjutkan perjalanan ke alun-alun Blitar melalui Jalan Veteran. Jalan ini memiliki kenangan tersendiri buat saya, karena pernah menabrak mobil di tempat ini. Ceritanya, saat malam minggu, berboncengan dengan sahabat saya, Santon, kami hendak ‘wakuncar’. Saya sebenarnya melihat kalau ada mobil sedang berputar arah, sudah berusaha menginjak rem motor, tetapi motor tetap melaju dan menghantam bagian samping mobil. Orang-orang di pinggir jalan berteriak dan segera menolong kami, dan dalam sekejap, ‘wakuncar’ yang kami rencanakan gagal total. Pelajaran berharga yang bisa dipetik, berhati-hatilah selama perjalanan, pikiran jangan melayang kemana-mana!

Dari alun-alun, kami meluncur ke Istana Gebang (Ndalem Gebang), rumah tempat tinggal Orang tua Bung Karno. Rumah ini terletaknya di jalan Sultan Agung No. 69 Kota Blitar. Di rumah inilah Sang Proklamator pernah tinggal ketika remaja.

Ketika masih bersekolah di Blitar dan menjadi Pimred Majalah Arsitek, saya sering datang ke tempat ini sepulang sekolah dengan berjalan kaki. Sekedar mencari inspirasi, dan sesekali melengkapinya dengan mengamati muda-mudi yang asyik berpacaran didalam Kebon Rojo, taman kota. Ach, ini merupkan kenakalan saya saat remaja. Meski, sebagai pembenaran, saya mengatakan ini adalah bagian dari proses kreatif seorang penulis….

Dalam bayangan saya saat itu, saya mengandaikan diri seperti Bung Karno. Kebiasaan beliau pada sore hari adalah ber jalan-jalan di Kebon Rojo dan ke luar masuk kampung di Bendogerit. Sepanjang perjalanan, Bung Karno selalu diikuti anak-anak dan remaja. Acara santai demikian biasanya diakhiri sampai di ndalem Gebang menjelang matahari terbenam.

Ketika memasuki ndalem Gebang, buku autobiografi Bung Karno yang ditulis Cindy Adams benar-benar membakar jiwa muda saya. Dalam buku itu disampaikan, bawah Bung Karno merupakan salah satu tokoh kunci yang sebelumnya mengetahui akan terjadinya sebuah pemberontakan oleh Laskar Pejuang PETA di Blitar pada 14 pebruari 1945. Di ndalem Gebang inilah, sekelompok pemuda yang dipimpin oleh Sudancho Supriyadi berdiskusi dengan Bung Karno perihal rencana Pemberontakan tersebut. Kenyataannya, Bung Karno sendiri memang lebih memilih berjuang melawan penjajahan Jepang lewat jalur kooperatif.

Itulah sebabnya, ketika beberapa waktu lalu kabar bahwa rumah keluarga Bung Karno ini akan dijual, saya ikut gusar. Apalagi alasan dari rencana penjualan rumah bersejarah itu adalah karena ahli waris yang terdiri dari 11 cucu Soekarmini tidak memiliki cukup dana untuk merawat rumah yang menyimpan benda dan barang kenangan terkait Bung Karno itu.

Beruntung, Pemerintah Kota Blitar, memastikan akan membeli Istana Gebang, sehingga cagar budaya itu tidak jatuh ke tangan orang-orang yang tidak bertanggungjawab. (*)

Foto diambil dari SINI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s