17 JAM DI PANTURA: Demi Sebuah Cinta

Lebaran tahun lalu saya memutuskan untuk mudik ke rumah orang tua di Blitar. Memang, ada berjanjian tidak tertulis antara saya dan Maimunah, istri saya, bahwa prosesi mudik dilakukan bergantian setiap tahun. Tahun sebelumnya, dengan alasan anak kedua saya baru lahir, saya menghabiskan waktu lebaran di Serang – Banten.

Beginilah serunya bila menikah dengan orang berbeda pulau. Saya berasal dari Blitar, Jawa Timur. Sedangkan istri asli orang Palembang, Sumatera Selatan. Dengan profesi sebagai karyawan swasta yang bergaji pas-pasan, jelas merupakan hal yang sulit jika kami harus mudik di dua Provinsi itu dalam setiap tahun.

TERTINGGAL

Selepas shalat Jum`at, kami meluncur ke terminal. Disana, bus yang akan membawa kami ke Blitar sudah menunggu. Saat itu tanggal 18 September 2009. Menurut informasi yang kami dengar di televisi, hari ini adalah puncak arus mudik. Apalagi, lebaran jatuh pada tanggal 20 September, maju satu hari, sebagaimana yang tertulis di dalam kalender. Bayangan peluk hangat emak dan bapak ketika menyambut kedatangan kami terus memanggil-manggil agar cepat sampai.

Senang saja membayangkan suasana pedesaan tempat saya bermain-main diwaktu kecil. Tentang hamparan padi yang menguning, juga sungai yang mengalir dengan jernih hingga terlihat bebatuan aneka warna di dasarnya. Apalagi kali ini ada yang special, dimana untuk yang bertamakalinya kami mudik bersama anak kedua saya. Auriza Haya Satifa, yang masih berumur 16 bulan.

Sedang asyik-asyiknya membaca buku, istri saya tampak panik. Ia menghampiri saya. “Abi, ATM-nya ketinggalan…,” suaranya tertahan.

Saya berusaha tenang, dan memintanya untuk mengecek kembali. Sia-sia, ATM itu tetap saja tidak ditemukan. Padahal waktu sudah menujukkan pukul 14.35, sedangkan 25 menit lagi mobil dijadwalkan berangkat. Untuk alasan keamanan, kami memang sengaja membawa uang tunai secukupnya selama perjalanan. Seluruh tabungan kami ada di ATM itu.

Tidak ada pilihan lain, saya kembali pulang ke rumah setelah terlebih dahulu bernegosiasi dengan pihak bus agar bersedia menunggu jika saya terlambat datang. Tanpa terduga sebelumnya, di jalan, saya satu angkot dengan Tini, teman satu pabrik. Dari gadis berambut sebahu itu saya mengetahui kalau Ahmad Toing, salah satu Yr. Supervisor di tempat kami bekerja meninggal dunia. Ahmad Toing tertabrak pengendara motor yang hendak mudik ke Lampung.

“Sekarang saya mau melayat kesana,” ujar Tini.

Cerita Tini cukup mengejutkan, karena saya kenal baik dengan Ahmad Toing. Tetapi tetap saja, berita duka itu tidak bisa mengalihkan kegalauan hati saya akibat ketinggalan ATM. Juga kegalauan membayangkan suara protes orang satu bus, karena saya terlambat datang.

Sampai dirumah, saya langsung membuka laci dimana ATM biasa disimpan. Tidak ada. Saya telpon istri, kalau-kalau ATM-nya sudah dipindahkan ke tempat lain. Namun istri menjawab bahwa ATM itu masih di tempat biasanya. Ia tidak merasa memindahkan. Penasaran dengan penglihatan saya, saya keluarkan isi laci itu satu persatu. Beberapa kosmetik yang tersimpan disana saya pindahkan dengan kasar. Sebagaian bahkan saya banting. Kesal.

Masih tidak ada!

Pada titik inilah, kaki saya terasa lemas. Menyadari bahwa saya harus pulang ke Blitar tanpa uang saku, yang berarti harus kembali ke Banten dengan meminta agar tiket dibelikan orang tua. Dalam hati saya berdo`a, agar keajaiban segera tiba.

Dan benar saja. pada saat yang bersamaan, handphone saya berbunyi. Dari istri, “Pa, ATM-nya ternyata enggak ketinggalan. Terselip di tas, dibawah tumpukan baju,” ujar Maimunah sambil meminta maaf. Lega rasanya mendengar kabar itu. Kini tinggal satu persoalan, bagaimana caranya agar cepat kembali ke agen bus agar tidak ketinggalan.

17 JAM DI PANTURA

Hari ini puncak arus mudik, ini sudah saya katakan tadi. Kemacetan panjang terjadi di jalur pantura. Untuk menggambarkan bagaimana kondisi malam puncak arus mudik saat itu, cukuplah saya katakan bahwa kami terjebak dalam kemacetan selama 17 jam. Semalaman kami terkurung dalam lautan kendaraan, yang berebut ingin lebih awal sampai ke tempat tujuan. Bahkan ketika adzan subuh terdengar perlahan dari sebuah masjid yang terletak dipinggir jalan, kami masih belum keluar dari jalur yang terkenal rawan macet itu.

Suasana semakin tidak nyaman manakala anak-anak kecil mulai menangis. Meski mobil yang kami tumpangi ber-AC, namun tetap saja kami merasa gerah manakala mengetahui mobil kami tidak bergerak sama sekali.

Tanggal 19 September 2009, pukul 12 siang, kami beristirahat di sebuah rumah makan di Cirebon. Jam segini baru sampai di Cirebon? Gila! Padahal dalam waktu normal, kami sudah sampai di perbatasan Jawa Timur.

Di rumah makan ini, dua orang SPG Djarum Black menghampiri saya dan menawarkan produk. Lincah dan antusias, meski matahari sedang panas-panasnya. Saya membeli Djarum Black Menthol. Tersugesti kata-kata “menthol”, saya berharap bisa menghilangkan gelisah dalam perjalanan panjang yang terasa tidak akan pernah santai.

TAKBIR IDUL FITRI, DI TERMINAL PURBAYA

20 September 2009, Pukul 01.00 dinihari, kami sampai di Terminal Purbaya, Madiun. Dari terminal ini kami harus berganti kendaraan agar bisa sampai ke Blitar. Sambil menunggu kendaraan yang membawa kami ke kota kelahiran, sayup-sayup terdengar suara takbir idul fitri dari sebuah masjid yang terletak tidak jauh dari terminal. Saya melihat wajah istri berkaca-kaca, sambil menggendong Haya, yang tertidur lelap di gendongannya. Sementara di pangkuan saya, Fadlan juga sedang tertidur pulas.

Sebuah perasaan haru tiba-tiba menyeruak kedalam kalbu, ‘hari kemenangan’ ini harus kami rayakan di tengah perjalanan. Saat mata kami bertemu, tak kuasa saya menahan air mata. Lebaran telah tiba, sementara bus jurusan Madiun – Blitar belum tersedia.

Dua jam menunggu, bus yang kami tumpangi mulai bergerak meninggalkan terminal. Kendati jalur Madiun – Blitar relatif lancar, tetap saja kami sampai ke rumah keesokan harinya, bersamaan dengan orang-orang pulang dari sholat Idul Fitri.

Begitu kami sampai di rumah, yang disambut dengan peluk hangat dan linangan air mata orang tua, keharuan itu pun tumpah. Kerinduan menemukan obatnya. Rasa letih dan lelah selama perjalanan mendadak hilang. Inilah barangkali yang disebut orang sebagai sugesti mudik. Yang membuat mereka rela menghabiskan THR dan uang tabungan agar bisa sampai ke kampung halaman. Yang membuat mereka rela terjebak dalam kemacetan, setiap kali waktu mudik tiba. Bahkan, janji di hati kecil saya untuk tidak lagi mudik jika belum memiliki mobil pribadi, dengan sendirinya hilang dari ingatan. Sekarang yang ada adalah luapan rasa bahagia. Bertemu orang tua, handai taulan, dan mantan pacar. (*)

One thought on “17 JAM DI PANTURA: Demi Sebuah Cinta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s