Bicaralah Perempuan

Kendati untuk menyampaikan pendapat dengan lisan maupun tulisan merupakan hak asasi setiap orang, namun nyatanya kebebasan ini belum mendapatkan momentum sebagaimana mestinya. Buktinya, masih banyak yang tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan sesuatu yang tidak berkenan dengan dirinya. Bahkan untuk berkata, tidak, sekalipun.

Diamnya masyarakat terhadap ketidakadilan yang terjadi di depan mata, saya istilahkan sebagai “budaya bisu”. Ambil contoh, ketika melihat kekerasan dalam rumah tangga, misalnya, masih banyak masyarakat yang mendiamkannya. Mereka beranggapan bahwa permasalahan itu bersifat pribadi, sehingga tidak elok kalau orang lain ikut campur.

Munculnya banyak komunitas, seperti Black Community, diharapkan bisa mengikis budaya bisu tersebut. Namun itu saja tidak cukup. Harus diikuti kesadaran dari masing-masing individu.

Ironisnya, perempuan-lah yang paling banyak dirugikan dalam situasi seperti ini. Budaya bisu, menyebabkan perempuan selalu berada dibawah dominasi laki-laki, yang secara fisik dan kultur sosial lebih kuat. Dalam banyak kasus KDRT yang sering kita lihat di media, kita sering melihat seorang istri babak beluk dihajar suami. Tragisnya, ternyata tindakan brutal suami itu sudah dilakukan berualang kali. Selama bertahun-tahun. Padahal kalau mereka berani berbicara sedikit saja, entah itu dengan protes atau melaporkannya ke pihak yang berwajib, persoalannya akan menjadi lain.

Contoh di atas termasuk yang ekstrim. Bisa saja kita mengatakan bahwa perempuan itu, maaf, tolol. Dianiaya begitu rupa, kok diam saja!

Menarik untuk dicatat hasil riset yang diselenggarakan oleh Forum Solidaritas Buruh Serang akhir tahun lalu, bahwa buruh perempuan termasuk yang mendapatkan diskriminasi dan diperlakukan tidak adil di tempat kerja. Namun pada saat yang sama, pekerja perempuan adalah yang paling sedikit bersedia menyelesaikan kasusnya di Pengadilan Hubungan Industrial (PHI). Biasanya, perempuan lebih suka mengundurkan diri dari tempat kerja ketika menghadapi permasalahan.

Seorang teman menceritakan pengalamannya saat mengikuti Lokakarya Kampanye Fleksibilisasi Pasar Kerja di Wisma Tanah Air – Jakarta Timur. Sebut saja Tini, yang merasa harga dirinya direndahkan saat seorang Satpam memeriksanya ketika hendak ijin pulang lebih awal akibat “tamu bulanannya” datang. Walaupun Satpam itu juga perempuan, namun rasa sakit hati itu masih sulit dihilangkan. Meski kejadiannya sendiri sudah lama berlalu.

“Sebagai sesama perempuan, seharusnya tuh Satpam pengertian lah. Masak aku disuruh membuka celana untuk memastikan benar-benar haid apa enggak…”, sesal Tini.

Namun yang perlu disesalkan kemudian, ketika kasusnya akan diadvokasi oleh serikat pekerja, perempuan tadi menolak. “Sudahlah, saya menerima saja. Saya masih butuh kerja”. Sikap nrimo yang salah tempat.

Dalam ranah intelektual, jangan ditanya, lebih sedikit lagi perempuan yang berani angkat bicara. Ambil saja contoh penulis artikel di berbagai media, sebagian besar penulisnya masih didominasi laki-laki. Untuk itu, kita berharap, lomba menulis blog yang diselenggarakan Djarum Black bisa mendorong perempuan untuk memanfaatkan media tulisan sebagai salah satu alat perjuangan, manakala secara lisan benyak mengalami hambatan.

Disana ia bisa melakukan kritik social terhadap berbagai isu hangat yang terjadi di masyarakat. Pendek kata, tulisan bisa menjadi alat perjuangan yang strategis untuk melawan penindasan terhadap perempuan.

Bicaralah perempuan. Sepertinya dua kata ini sangat urgent untuk kita kampanyekan kepada masyarakat Indonesia. Untuk mendorong kaum perempuan Indonesia agar berani mengungkap isi hatinya, baik dengan lisan maupun tulisan. Untuk mendobrak budaya bisu, dengan lantang berteriak ‘salah’ untuk sesuatu yang benar- benar salah. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s