Prita, Manohara, dan Buruh Perempuan Indonesia

Bila ada wanita yang paling banyak dibicarakan dalam beberapa bulan terakhir, itu adalah Prita Mulyasari dan Manohara Odelia Pinot.

Prita mendadak terkenal lantaran sebuah e-mail, yang dianggap mencemarkan nama baik RS Omni Internasional. Sementara Manohara Odelia Pinot, terkenal karena perseteruannya dengan sang Suami, Tengku Fakhry, yang tidak lain adalah Pengeran Kerajaan Kelantan, Malaysia. Si Bungsu yang lahir dari seorang ibu keturunan bangsawan Bugis, Daisy Fajarina dan ayah berkebangsaan Perancis, Reiner Pinot Noack, merupakan model belia kelahiran Jakarta, 28 Februari 1992. Tidak heran jika Manohara, nama panggilannya, mewarisi wajah dan tubuh yang indah.

Kendati keduanya sempat menghipnotis publik, dengan pesona dan beritanya masing-masing, namun tulisan ini tidak bermaksud mengupas sisi itu. Biarkanlah Prita dan Manohara hidup dan dikenang publik dengan warta yang telah ditorehkannya. Keduanya, adalah wanita yang mengilhami sekian banyak orang tentang sebuah perlawanan. Ya, perlawanan terhadap ketidaknyamanan yang mereka terima. Perlawanan terhadap budaya bisu, untuk berani menyampaikan apa yang mereka anggap benar.

Nasib Buruh Perempuan Indonesia

Sama-sama perempuan, namun yang satu ini nyaris terlewatkan dari perhatian kita. Mereka adalah kaum buruh perempuan Indonesia, yang hingga saat ini masih tertatih menggapai keadilan. Bedanya, meski mereka juga melakukan perlawanan, namun tidak terpublikasi secara luar biasa dalam media massa. Sehingga kesannya tidak terjadi apa-apa terhadap mereka.

Simak saja kisah tragis para TKW kita, yang disiksa majikannya di luar negeri sana. Yang tidak dibayar gajinya, yang tidak bisa kembali pulang ke Tanah Air karena kehabisan biaya. Banyak dari mereka yang diperkosa, bahkan dihilangkan nyawanya secara paksa. Mereka juga melakukan pelawanan, sekecil apapun bentuknya. Namun apa daya, jari jemarinya lemah dan tak berdaya…

Perhatikan juga nasib buruh perempuan di dalam negeri. Betapa banyak yang kehilangan haknya untuk mendapatkan cuti haid, tidak diberi kesempatan menyusui anaknya, diskriminasi gender, dan perlakuan tidak adil lain. Bahkan, menurut pengakuan seorang buruh yang bekerja di Modern Cikande Industrial Estate, ia terpaksan menunda kehamilan hanya karena tidak ingin kehilangan pekerjaan.

Bahkan bisa jadi kita juga tidak banyak mendengar nama-nama seperti Evi Ristiasari dan Yuli Setianingsih. Siapa mereka? Mereka adalah simbol perlawanan kaum buruh di komunitasnya. Mereka adalah 2 (dua) orang aktivis perempuan Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) yang harus masuk bui, bermula dari memperjuangkan serikat pekerja di PT. Nakita Manufacturing Indonesia di Karawang.

Browser Anda mungkin tidak bisa menampilkan gambar ini. Kita juga bisa menemui Ratna (bukan nama sebenarnya), buruh PT. Sennatra Pendawatama di Serang – Banten, yang sempat diadukan ke polisi atas tuduhan pencemaran nama baik. Hanya karena orasinya ketika melakukan aksi mogok kerja di depan perusahannya. Diluar nama-nama di atas, tentu masih banyak contoh yang lain.

Memang, kasus-kasus di atas tidak terekspos sedahsyat kasus yang dialami Prita dan Manohara. Sama-masa perempuan, namun isu-isu diskriminasi, penganiayaan, dan aneka ketidakadilan yang menimpa buruh perempuan yang sudah bertahun-tahun dan tidak kunjung ada perubahan ini tidak semestinya kita abaikan. Bahwa isu buruh perempuan, harus tetap dihidupkan untuk dicari solusinya, karena ia belum menemukan penyelesaian yang tuntas. Entah sampai kapan?

Artikel terkait:

Catatan Cinta Wanita Pekerja

Kepedulian Pada Pekerja Perempuan

Menghindar dari Jebakan Rutinitas

Kalau Aku Perempuan, Kalian Mau Apa?

9 thoughts on “Prita, Manohara, dan Buruh Perempuan Indonesia

  1. Kaum buruh tidak punya nilai jual untuk rekan2 wartawan..jd publikasi sangat jarang. Semoga blog ini dan aktifis buruh lainya bisa lebih bisa mengangkat isu2 perburuhan seperti kasus Prita.

  2. Inilah negeri kita, buruh perempuan mungkin tidak secantik seperti Manohara, atau tidak sepintar prita yang sudah ngerti email, sedangkan buruh perempuan yang rata-rata pendidikannya tidak sampai jenjang kuliah menjadi bulan-bulanan. Hanya orang-orang bijak dan berhati malaikat serta memiliki power yang bisa membantu mereka. Aku hanya individu yang prihatin dan tidak bisa berbuat banyak, namun aku berdoa dan optimis bahwa keadilan segera tegak, sebab Tuhan tidak pernah tidur dan lupa dari semua ini…

  3. Persoalan perburuhan, khususnya di negara yang kita cintai ini adalah persoalan skala prioritas yang harus di mengerti, dipahami serta Pemerintah harus melindungi, karena Buruh adalah aset Nasional….tapi sayang perjuangan Buruh oleh pihak – pihak yang mengatasnamakan pejuang buruh masih diragukan ahlaqnya….semoha anda adalah sahabat yang tulus hati memperjuangkannya…lanjutkan perjuanganmu kawan dan jangan bosan., semoga Allah SWT selalu melindungimu…amien

  4. Itulah potret buruh perempuan Indonesia. Banyak sekali perlakuakn-perlakuan tidak manusiawi yang menimpa mereka. Haruskah kita diam saja menjumpai kenyataan ini? Tentu saja tidak, ajaklah mereka, kawan kita, adik kita, saudara kita, untuk menambah ilmu tentang hak-hak mreka sebagi buruh. Disela-sela kesibukan bekerja mereka tentunya. Dan berikan kepada mereka kesempatan, jika ada pelatihan-pelatihan yang diadakan oleh institusi apapun itu sehingga mereka sadar, dan minimal bisa membela dirinya sendiri jika terjadi persoalan. Tidak vukup rasanya hanya sekedar berkomentar di Blog ini. Tapi marilah kita bahu-membahu merubah kondisi ini dengan tindakan nyata sesuai dengan kemampuan yang kita miliki.

  5. sungguh memprihatinkan melihat kondisi serta nasib buruh perempuan di Indonesia. dengan iming-iming pekerjaan yang tetap jika mentaati majikannya, buruh ini pun rela di bayar murah. di satu sisi, adalah fakta bahwa buruh perempuan di bayar lebih murah di banding buruh laki-laki. tentunya persoalan ini juga tidak lepas dari stereotype yang berkembang dalam diskriminasi gender. perlakuan para kapitalis terhadap buruh perempuan dan laki-laki merupakan sebuah penindasan yang harus diakhiri melalui kebijakan pemerintah yang tidak hanya mengutamakan keuntungan, namun juga kesejahteraan rakyatnya

    1. Saya tertarik untuk menguti pernyataan Jhie Ananda, di Facebook, bahwa “Perempuan bangkit melawan, dengan membentuk organi sasi maju, galang semua kekuatan, lawan semua bentuk penindasan, berbudaya patriarki, bangkit melawan, telah tiba saatnya kaum perempuan hapuskan paham lama, menuju dunia baru, menuju kesetaraan, bangkitlah kaum perempuan, bergerak untuk kemenangan , tegakkan dan wujudkan , demokrasi nasional.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s