Menghindar dari Jebakan Rutinitas

”Saya sudah jenuh bekerja…,” keluhan itu keluar dari bibir Ratna, 26 tahun. Saya tidak menduga kata-kata itu terucap dari bibir si pemilik lesung pipit itu. Jenuh bekerja? Ach, semudah itukah? Padahal ia harus melewati beberapa puluh tahun lagi untuk memasuki usia pensiun.

Namun ketika saya mengamati binar di wajahnya yang teduh, saya mendapati ia tidak sedang bercanda. Gadis itu serius dengan apa yang baru saja diucapkannya. Sedikit heran, sebab pada saat yang sama, ribuan orang sedang berebut mendapatkan pekerjaan.

Apa gerangan yang membuat pemilik rambut sebahu itu mengeluh tentang pekerjaannya? ”Aku tidak menyukai rutinitas, membosankan….” itu jawaban pertama. Sesaat kemudian, rangkaian kalimat meluncur bertubi-tubi. ”Aku ingin menjadi entrepreneur, yang bebas menentukan sendiri bagaimana saya bekerja, kapan saya harus libur, juga berapa penghasilan saya.”

Hampir semua orang menyukai kebebasan. Seperti burung yang mengepakkan sayapnya, kemana pun ia mau. Seperti Djarum Black yang memberikan sensasi damai, kepada seseorang yang menghisapnnya di pagi hari dengan ditemani secangkir kopi.

”Kita tidak akan menjadi kaya hanya menjadi buruh pabrik, Mas…,” Persis, di kalimat yang terakhirnya ini, seolah Ratna ingin menegaskan pendiriannya. Nampaknya bukan hanya Ratna yang mengalami perasaan seperti itu. Tidak sedikit karyawan yang mengeluhkan tentang buruknya kondisi kerja, rendahnya upah yang mereka terima, dan tidak adanya jaminan sosial di tempatnya bekerja.

Keresahan dan keluhan seperti itu wajar, apabila diikuti dengan cara-cara yang konstruktif untuk berlepas diri dari permasalahan yang serba tidak nyaman tadi. Namun menjadi masalah, apabila kita hanya sekedar mengeluh, lantas tidak berbuat apa-apa. Orang-orang seperti ini terjebak dalam sikap pragmatis dan apatis. Bila dibiarkan terus, sikap pragmatis dan apatis berpotensi merusak karir dan nama baiknya sebagai seorang karyawan.

”Sikap apatis dan berdiam diri adalah sikap bodoh yang sempurna,” ujar Dr. Syahrir dalam sebuah pidatonya.

Memang, nasehat yang tepat bagi mereka yang sudah jenuh bekerja adalah dengan tidak menyuruhnya bersabar. Harus ada upaya dari kita untuk meningkatkan kemampuan dan prestasi. Cobalah suatu saat berkunjung ke autoblackthrough, anda akan menemukan banyak sekali artikel-artikel yang bisa menjadi inspirasi untuk berprestasi.

Penasaran? Silahkan langsung saja meluncur kesana.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s