Kepedulian pada Pekerja Perempuan

Menjadi seorang ibu, merupakan sebuah anugerah dan kebanggaan tersendiri. Sebab hanya dengan memiliki anak yang terlahir dari rahimnya lah, seorang wanita akan merasa menjadi makhluk paling sempurna.

Diluar kebutuhan untuk selalu dekat dengan si buah hati, tidak sedikit wanita karir yang harus merelakan anak kecilnya dibawah asuhan orang lain. Entah itu neneknya, bibinya, bahkan menggunakan jasa baby sister. Tentu ini menjadi pilihan yang dilematis. Apalagi untuk karyawan perusahaan swasta, yang minimal menghabiskan waktu 8 (delapan) jam di dalam perusahaan.

Ya, rentang waktu 8 jam bukannya waktu sebentar untuk meninggalkan sebuah kebersamaan yang intensif dengan si buah hati. Apalagi ketika sore hari, sepulang dari bekerja, mereka sudah kehabisan tenaga. Bila sudah begini, yang banyak dilakukan oleh karyawan adalah duduk santai sambil menikmati Djarum Black Menthol. Biasanya, tidak berselang lama, inspirasi dan semangat baru akan segera muncul.

Tidak heran, bila kemudian banyak cerita terangkai dari sini. Dimana kemudian tuntutan karir dan kasih sayang seorang ibu menghadapi tantangannya.

Seperti disampaikan Asih, dalam satu sesi tanya jawab Dialog Publik yang diselenggarakan FSBS. ”Pernah satu ketika, saya melihat seorang ibu yang membuang ASI di kamar mandi. Ketika saya tanya, kenapa kok ASI-nya dibuang? Dia menjawab, kalau tidak dibuang akan terasa sakit dan airnya keluar sendiri. Sementara minta izin keluar sebentar untuk menyusui anak saya, tidak diizinkan…”

Satu peristiwa yang mampu mengoyak rasa kemanusiaan kita, dan layak ditampilkan dalam Black In News.

Tidak berlebihan bila kemudian Surya Chandra, SH.,LLM, Direktur Eksekutif Trade Union Right Centre (TURC) memberikan kecaman keras. ”Saya tergetar mendengar penuturan, ada perusahaan yang melarang buruhnya menyusui anaknya. Bagi seorang ibu, tidak ada yang lebih membahagiakan daripada saat-saat memberikan asi kepada buah hatinya. Vitamin yang paling gratis pun enggak boleh! Gila! (dengan suara meninggi). Berapa kalian menggaji buruh-buruhmu untuk membiayai anak-anak yang membutuhkan vitamin? Hak menyusui seorang perempuan dalam pekerjaan lebih penting dari pekerjaan itu sendiri. Karena itu untuk anaknya, dan anak dari anaknya nanti. Ini menentukan munculnya sebuah generasi yang berkualitas dikemudian hari. Bila hal sangat penting seperti ini saja diabaikan, bagaimana mungkin SDM kaum buruh akan ditingkatkan?”

Bahwa tujuan dari bekerja, bukanlah pekerjaan itu sendiri. Dengan kata lain, perkembangan di bidang industrialisasi juga harus tetap mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan. Apalagi dalam sebuah era, dimana perempuan memiliki kesempatan dan peran yang lebih besar dalam dunia kerja. Apapun dalihnya, perempuan tidak sama, dan memang tidak bisa disamakan, dengan laki-laki.

Itulah sebabnya, banyak kalangan memperjuangkan pengarusutamaan gender, khususnya terkait dengan kesetaraan dalam pembangunan. Ini penting, sebagai upaya untuk memastikan tidak ada diskriminasi semata-mata perbedaan jenis kelamin. Kita sepakat, bahwa urusan mengurus anak bukanlah tanggungjawab perempuan semata. Namun naluri sebagai seorang ibu, jelas merupakan satu keniscayaan yang tidak bisa diabaikan.

Ratna, misalnya, karyawan sebuah perusahaan keramik di Balaraja ini mengajukan ijin pulang awal. Pasalnya, ibu muda ini baru saja mendapat telepon, kalau Aldi, anaknya yang berusia 2 tahun menangis terus. Dengan wajah cemas Ratna bercerita kalau Aldi dititipkan ke tetangga. ”Yang mengasuh belum datang…,” ujarnya pelan, memberi alasan.

Ratna beruntung bekerja di perusahaan yang memberikan haknya sebagai seorang ibu. Setidaknya dia masih diijinkan untuk meninggalkan pekerjaan, tanpa harus beresiko mendapatkan Surat Peringatan atau kehilangan pekerjaan. Ketika keesokan harinnya Ratna masuk kerja kembali, ia berkata, ”Hari ini gantian suami saya yang tidak bekerja, menemani Aldi.”

Lagi-lagi, melalui perempuan kita belajar banyak hal. Dari dua contoh kasus di atas, kita bisa menyimpulkan model hubungan kerja yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan. Apalagi memang, dari waktu ke waktu semakin banyak perempuan yang memutuskan untuk menjadi wanita karir.

Kepedulian dalam hubungan kerja, misalnya diwujudkan dalam bentuk memberikan cuti haid, cuti melahirkan, tidak mempekerjakan wanita hamil di malam hari, hingga memberi kesempatan untuk menyusui anaknya pada saat jam kerja. Hal-hal seperti itu memang tercantum di dalam regulasi/perundang-undangan, namun tanpa disertai komitment untuk menjalankannya, sebuah regulasi hanya akan menjadi esai tentang moral. Indah dalam janji, namun tidak pernah terbukti.

Menarik untuk mengutip hasil survey The Leadership Challenge, James Mc Kouzes dan Barry Z. Postner pada tahun 1987 dan tahun 1993. Dari hasil penelitian itu menunjukkan, karakter Chief Executif Officer (CEO) yang sukses adalah, jujur, berfikiran maju, bisa memberikan inspirasi, kompeten, adil, suka mendukung, berpandangan luas, cerdas, bisa diandalkan, suka bekerja sama, berdaya imajinasi, peduli, loyal, dan independen.

Dengan demikian semakin jelas bagi kita, bahwa nilai-nilai universal seperti inilah yang sesungguhnya akan mengantarkan pada keberhasilan dan peningkatan produktifitas. Sebaliknya, cara-cara eksploitasi tenaga kerja dengan menyetarakan karyawan sebagai mesin, menerapkan jam kerja yang panjang, serta pemberian upah murah, tidak akan menyelesaikan masalah. (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s