KB Tidak Lagi Identik dengan Wanita

Artikel ini pernah saya ikutkan dalam RNW Writing Contest.

Dua anak cukup, laki-laki perempuan sama saja. Kalimat ini merupakan slogan yang sangat familiar bagi bangsa Indonesia. Apalagi ini merupakan esensi dari pelaksanaan program Keluarga Berencana (KB). Melalui program ini, diharapkan akan terbentuk sebuah keluarga yang berkualitas, sejahtera, dan bahagia.

Menurut catatan BPS (tahun 2006), penduduk Indonesia mencapai 220 milliar jiwa. Angka ini menempatkan Indonesia dalam posisi papan atas jumlah penduduk terbesar di dunia. Itulah sebabnya, pemerintah sempat mengisyaratkan lampu kuning untuk pertumbuhan penduduk. Isyarat ini cukup beralasan, sebab apabila jumlah penduduk terus membengkak akan menghambat pertumbuhan ekonomi. Ketika pertumbuhan ekonomi terhambat, bisa dipastikan jumlah angka kemiskinan juga akan meningkat.

Ruslan, misalnya, warga Kabupaten Serang Provinsi Banten ini akhir-akhir ini begitu mengkhawatirkan anak-anaknya. Pasalnya, tubuh bapak sembilan anak ini sudah mulai menua. Sementara sebagian besar anaknya belum juga beranjak dewasa. Dua diantaranya bahkan masih duduk di bangku sekolah dasar.

”Tubuh saya sudah tidak sekuat dulu lagi dalam bekerja, sementara anak masih kecil-kecil. Seandainya dulu saya mengikuti program KB,” kata Ruslan malam itu, saat giliran ronda. Ia menerawang ke masa mudanya.

Meskipun program KB yang dilakukan di Indonesia dianggap berhasil, namun dilapangan program ini tidak sedikit mengalami hambatan. Sebabnya beraneka ragam, salah satunya adalah masih adanya pandangan di masyarakat, bahwa penggunaan alat KB adalah domain perempuan. Sehingga pria merasa tidak berkepentingan. Lebih tepatnya bersikap acuh tak acuh.

Ruslan adalah sebuah contoh. Bayangkan, di usianya yang sudah senja, ia masih merisaukan masa depan anak-anaknya. Sebuah potret kehidupan keluarga yang tidak terencana dengan baik.

Pria Juga Bisa Cegah Kehamilan

Dua anak cukup, laki-laki perempuan sama saja. Namun faktanya masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa urusan KB adalah urusan perempuan. Sehingga kalau sebuah keluarga memiliki banyak anak, lalu kasih sayang dan pendidikan mereka terbengkalai, yang mendapatkan stigma negatif adalah si wanita. Pendapat ini diperkuat dengan adanya fakta, bahwa sebagian besar alat kontrasepsi diperuntukkan bagi wanita. Padahal, semestinya hal ini menjadi tanggungjawab kedua belah pihak. Istri dan suami. Misalnya dengan lebih bervariasinya alat KB, yang memberikan lebih banyak pilihan bagi pria.

Tahukah anda, bahwa harapan itu akan segera terwujud. Saat ini tengah berlangsung sebuah penelitian, dimana dengan suntikan bulanan bisa menghentikan sementara produksi sperma. Hasilnya juga tidak perlu diragukan, karena 99 dari 100 kasus berhasil mencegah kehamilan.

Meski baru tahap penelitian dan baru bisa dipasarkan sekitar 5 tahun kedepan, informasi ini cukup menggembirakan Sehingga kedepan, anggapan bahwa KB adalah urusan perempuan akan segera berubah. Menarik untuk membayangkan para pria berdatangan ke Puskesma/Bidan untuk melakukan suntik KB, seperti yang saat ini banyak dilakukan perempuan (*)

Iklan
Dikirimkan di Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s