Cemburu Bukan Pembenaran untuk Melakukan Kekerasan

Artikel ini pernah saya ikutkan dalam RNW Writing Contest.

Banyak orang mempersepsikan bahwa cemburu adalah bagian dari cinta. Ini tidak salah, memang. Sebab secara naluri, kita pasti akan memberikan reaksi bila ada orang lain yang mencoba untuk lebih dekat dengan pasangan kita. Permasalahannya kemudian, seperti apa kita akan mengekspresikan rasa cemburu itu? Menghunus belati, atau melakukan upaya dengan santun dan penuh cinta untuk menyelamatkan kelanggengan hubungan kita?

Ini penting untuk dikaji. Sebab tidak sedikit orang yang melakukan “kekerasan” terhadap pasangannya, justru karena dilandasi oleh rasa cemburu. Seperti diberitakan detikNews (25/9/2007), karena dilanda cemburu, seorang istri nekat memotong kemaluan suami. Pasalnya, pria yang tidak disebutkan namanya itu sampai beristri dua. Keadilan tidak dirasakan oleh istri pria berusia 48 tahun itu. Dia merasa, suaminya lebih perhatian pada istri kedua, ketimbang dirinya. Panaslah hati istri pertama yang tengah dilanda cemburu itu. Rupanya kekesalannya sudah tak tertahankan lagi. Dia menemukan cara agar suaminya yang doyan wanita itu tidak lagi digdaya di atas ranjang. Di kala suaminya tengah terlelap dalam tidur, wanita berusia 43 tahun itu menjalankan rencananya. Dan kresss…, pisau tajam telah memotong penis suaminya.

Beberapa hari lalu, Windi, tetangga kontrakan saya menangis pelan di dalam kamarnya. Kepada istri saya yang datang menghibur, ia bercerita kalau baru saja ribut dengan sang pacar. Hanya masalah sepele, karena sang pacar cemburu karena melihat Windi dibonceng seorang laki-laki.

“Padahal udah aku jelaskan, laki-laki itu tukang ojek,” Windi menceritakan. Merasa tidak puas dengan jawaban yang diberikan Windi, sang pacar meninggalkannya. Sebelumya, ia memberikan kenang-kenangan warna merah bekas tamparan di pipi.

Cerita di atas merupakan dua kasus yang berbeda, namun memiliki akar permasalahan yang sama. Cemburu. Pantaslah bila psycholog Karlijn Massar dalam desertasinya di Rijksuniversiteit Groningen menyimpulkan, bahwa baik pria maupun wanita punya rasa cemburu pada pasangannya. Mungkin rasa cemburu itu tidak disadari. Tanpa sadar, baik pria maupun wanita memperhitungkan ancaman yang bisa membahayakan hubungan mereka dengan pasangan dan keturunan mereka.

Permasalahannya, apakah dengan alasan cemburu kita bertindak semau gue terhadap pasangan kita? Jawabannya tidak.

Sebuah kekerasan, apapun alasannya, tetap saja sebuah tindak kejahatan. Kita berhak atas tubuh dan jiwa kita, tak seorangpun berhak menganggu-gugat. Apalagi menyakitinya. Oleh karena itu, meski saling cinta dan karena alasan cemburu, tidak berarti pasangan kita boleh melakukan kekerasan. Bila itu terjadi, segeralah melaporkannya ke kepolisian. (*)

Iklan
Dikirimkan di Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s