Motivasi Cinta

Cinta menjadi salah satu faktor yang bisa meningkatkan produktivitas kerja seorang karyawan. Apakah anda sepakat?

Pernyataan di atas sepihak, bahkan terkesan dipaksakan. Karena pada saat yang sama, cinta, juga dituding menjadi biang keladi menurunnya etos kerja. Namun meski begitu, diluar itu semua, ternyata cinta memiliki energi yang luar biasa. Cintalah yang mampu membolak-balikkan logika. Cinta juga yang membuat seseorang menjadi sulit ditebak, yang membuat kita terbangun lebih pagi dan bersemangat menikmati beningnya embun di pagi hari. Lantas apa hubungan semua itu dengan perjalanan karir seorang karyawan? Saya akan berbagi pengalaman dengan kalian.

Saat itu, saya termasuk kelompok karyawan yang datang lambat-lambat dan pulang cepat-cepat. Bagi saya bekerja adalah untuk pekerjaan itu sendiri. Apalagi saya tinggal di mest yang disediakan perusahaan, masih lajang pula, sehingga tidak harus memikirkan kebutuhan yang bermacam-macam. Yang penting akhir bulan gajian, dan persis pada minggu berikutnya bisa refresing bersama teman-teman.

Namun semua itu berubah seketika, manakala cinta mulai bersemi di hati. Ya, saya jatuh cinta.

Perubahan besar itu terjadi, tepatnya setelah ada penerimaan karyawan baru di bagian staff keuangan. Namanya indah, Auriza Satifa. Seperti makna yang terkandung di dalamnya, Riza, begitu ia dipanggil, memiliki filosofi padi. Tidak sombong, meskipun dia menjadi salah satu lulusan terbaik universitas ternama di negeri ini. Dari segi penampilan, meskipun subyektif, saya hanya bisa mengucapkan dengan satu kata, cantik.

Namun bagi kami yang berada di bagian produksi, bergabungnya Riza dalam struktur organisasi perusahaan tidak serta-merta mendapat respon positif. Sebabnya, meski tidak terlalu terlihat, sejak lama antara bagian keuangan dan produksi selalu ada perang dingin. Kami yang di produksi menganggap bagian keuangan merupakan bagian yang tidak ”menghasilkan”, sudah begitu – yang membuat kami iri – rata-rata mereka mempunyai fasilitas lebih baik dan bekerja di kursi empuk dengan ruangan ber-AC. Sebaliknya, bagian keuangan beranggapan divisi kami ”tidak penting”, bahkan cenderung diremehkan. Itulah sebabnya, masuknya Auriza Satifa, membuat staff produksi senior bereaksi keras.

”Mengapa bagian produksi yang dari dulu meminta tambahan karyawan tidak disetujui, sementara harus ada penambahan karyawan baru untuk staff keuangan? Padahal kan bagian itu tidak ada kerjaannya…” begitu kira-kira mereka berpendapat. Pada awalnya, untuk sebuah alasan solidaritas, saya termasuk pendukung kelompok ini.

Namun seiring berlalunya waktu, saya tidak menemukan alasan untuk menumpahkan kekesalan itu pada Auriza Satifa. Ada tiga alasan mendasar, (1) Kepribadi Riza sesungguhnya sangat mengesankan, wajahnya selalu terlihat ceria, cerah dengan senyum tulus terukir di bibir; (2) Tutur katanya sopan, si lesung pipit itu benar-benar memposisikan diri sebagai karyawan baru dan menghormati seluruh karyawan yang lebih senior darinya, tanpa terkecuali; dan (3) Pekerjaan Riza berhubungan langsung dengan bidang yang saya kerjakan. Dimana saya harus selalu menyerahkan rekapitulasi hasil produksi untuk penghitungan bonus produktivitas, setiap hari.

Setelah saya analisa kembali, nyatanya hanya tiga hal itulah yang membuat saya secara tidak sadar telah mendeklarasikan diri sebagai pembela bagian keuangan. Tentu karena Riza di dalamnya. Bila ada yang menganggap rendah bagian keuangan, misalnya, saya akan segera mengingatkan bahwa dalam menjalankan pekerjaan semua bagian ibarat satu tubuh. Tangan, yang mencari makanan, tidak boleh memprotes mulut yang pekerjaannya menelan makanan. Tetapi kemudian saya sadar, bahwa ketiga analisis di atas sebenarnya hanya sebagai pembenaran semata. Sebab alasan yang sesungguhnya, diam-diam timbul rasa suka sama suka diantara kami.

Itulah saat-saat saya merasa bersemangat dalam kerja. Saat saya mulai terbiasa datang lebih pagi dan pulang lebih lambat dari yang lainnya. Nampaknya, hal yang sama juga dilakukan oleh Auriza Satifa.

Jangan salah menduga, kalau semua itu kami lakukan agar memiliki waktu yang lebih lama untuk bersama. Lantas kami mengabaikan pekerjaan, tidak tahu diri, sehingga tugas-tugas kantor terbengkalai. Tidak sama sekali. Motivasi kami, semua ini adalah pembuktian. Pembuktian bahwa saya bisa bekerja dengan sempurna. Alasannya sederhana, agar saya terlihat hebat di depan si lesung pipit itu. Rasanya hal yang paling tabu adalah ketika melakukan kesalahan dalam kerja, dan Riza tahu akan hal itu.

Situasi ini berdampak positif. Kedekatan personal diantara kami, mampu mencairkan komunikasi dua departemen yang tadinya nyaris membeku. Apalagi setelah saya dan Auriza Satifa memutuskan untuk menikah. Banyak yang kemudian memberikan komentar, ”bahwa ini adalah pernikahan antara departemen keuangan dan produksi”. Dimana Pak Kas (Supervisor Departemen Keuangan) dan Pak Jon (Supervisor Departemen Produksi) sekarang sudah saling menjadi ”besan”. Perumpamaan yang indah, karena kedua departemen ini sebelumnya saling berebut pengaruh.

Itulah kekuatan cinta. Hingga beberapa tahun kemudian, ketika istri saya memutuskan untuk keluar dari perusahaan, cinta itu juga yang memberikan energi berlipat kepada saya untuk bekerja lebih keras. Namun kali ini cinta yang saya maksudkan merupakan manifestasi dari rasa sayang seorang kepala keluarga. Sebagai suami, juga sebagai seorang ayah dari Abdullah Fadllan Harist, buah hati kami yang sedang lucu-lucunya itu.

Betapa saya bersyukur perhatian yang tulus dan tembang cinta yang selalu dihembuskan keluarga senantiasa menginstall ulang energi positif dalam diri saya.

Memang, pada akhirnya semua itu adalah sikap. Apakah kita akan menggunakan energi yang mengalir dalam tubuh kita untuk memperbaiki kualitas hidup kita, atau sebalinya, menjadikanya sebagai faktor penghambat. Bila itu bisa kita tempatkan secara benar, niscaya perjalanan karir kita akan seindah nada cinta, bahkan ketika menghadapi banyak masalah sekalipun. (*)

Catatan kehidupan, dari inspirasi seorang kawan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s