Di Tengah Sawah, di Atas Punggung Kerbau

Pernahkah kita bertanya pada telpon genggam, yang setia menemani setiap aktivitas kita? Apa jadinya bila dunia ini tanpa kehadirannya? Barangkali waktu akan terasa sedemikian lama dan membosankan. Karena untuk sekedar bertanya kabar, membutuhkan hitungan minggu, bahkan bulan.

Waktu itu pertengahan tahun 90-an, saat paman saya meninggalkan desa Jatitengah untuk mengikuti program transmigrasi di Kalimantan Timur, tepatnya di Kabupaten Kutai. Desa saya, Jatitengah, adalah sebuah desa kecil yang terletak di Kabupaten Blitar, Jawa Timur. Mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai petani. Oleh karenanya, bagi mereka yang tidak memiliki sawah dan mendapatkan pekerjaan di bidang lain, pilihannya adalah menjadi buruh tani. Keluarga besar kami salah satunya.

Bosan menjadi buruh tani, dan termotivasi untuk memperbaiki nasib, Paman bertekad untuk ikut program transmigrasi. Saya ingat, nenek dan Bapak menangis saat melepas kepergian Paman ke pedalaman Kalimantan. Dalam benak saya terbayang, peristiwa itu mengharukan sekali. Sangat dramatis. Betapa tidak, seorang buruh tani melakukan lompatan besar untuk memperbaiki nasib di tanah rantau. Nenek terlihat sedih. Apalagi ia hanya memiliki dua orang anak, yang pertama Bapak saya, dan yang kedua adalah Paman.

Saat itu, media yang paling mungkin digunakan untuk berkomunikasi dengan Paman adalah surat. Telekomunikasi masih menjadi barang langka di desa saya. Saat itu yang sudah memiliki telpon hanyalah pak Romli, orang paling kaya di desa kami. Lagi pula, di tempat paman melakukan transmigrasi, tidak ada telpon. Bahkan kabarnya, listrik pun belum ada.

Bila sedang kangen dengan anaknya, Nenek selalu menyuruh saya untuk menuliskan surat buat Paman. Nenek mendikte, apa saja yang hendak disampaikan kepada Paman, sedangkan saya yang menulis. Setiap kali menulis surat, minimal 3 lembar.

”Sekalian yang banyak, toh biayanya sama saja,” ujar nenek dengan logat bahasa Jawa-nya yang khas.

Setelah surat selesai di tulis, bukan berarti pekerjaan selesai. Bapak harus mengayuh sepeda sejauh sepuluh kilometer menuju kantor pos yang terletak di kecamatan. Dan biasanya, kami mendapatkan surat balasan dari Paman paling cepat dua bulan setelah surat itu dikirimkan. Pernah beberapa surat tidak berbalas, mungkin tidak sampai ke alamat yang dituju. Atau barangkali Paman tidak sempat membalasnya.

Maka, kepergian Paman ke Kalimantan seperti pergi ke ”dunia lain”. Nenek seperti kehilangan anak karena sulitnya berkomunikasi. Beberapa kali saya mendengar Nenek bertanya kepada Bapak, apakah Kalimantan masih menjadi bagian dari negara Indonesia?

”Lha iya to, Mak. Kalimantan itu masih bagian dari negara Indonesia,” jawab Bapak.

”Kok ngirim surat saja datangnya lama banget,” gerutu Nenek, sambil mengunyah daun sirih.

Akhir tahun 90-an, sebenarnya sudah ada beberapa tetangga yang memiliki handphone. Namun karena bagi keluarga saya harga dan tarif telekomunikasi yang saat itu masih relatif mahal, kami masih setia menggunakan jasa tukang pos. Puncaknya, ketika nenek meninggal dunia. Kami kebingungan untuk segera memberitahu Paman. Dengan mengirim surat, setidaknya membutukan waktu berhari-hari untuk memberitahu Paman perihal kabar duka itu.

Kenangan itu terlalu sakit untuk diingat kembali.

* * *

Juli, tahun 2001, saya mendapatkan pekerjaan di Serang – Banten. Tidak seperti Paman dan mendiang Nenek, dalam berkomunikasi dengan keluarga di Blitar kami sudah menggunakan media telekomunikasi. Meskipun, saya harus menelpon ke tetangga dahulu, untuk kemudian meminta tolong kepada tetangga agar menyampaikan kepada Bapak bahwa setengah jam lagi saya akan menelpon kembali. Setengah jam kemudian, ketika saya menelpon kembali, bapak dan emak sudah berada di rumah tetangga untuk berkomunikasi dengan saya.

Jarak yang membentang antara Blitar dan Banten seperti hanya dipisahkan oleh bilik bambu. Kami bisa berbicara dengan emak dan bapak, kapanpun saya mau. Namun, ini tidak berjalan lama. Karena pada suatu hari bapak berkirim surat kepada saya. Setelah panjang lebar menceritakan kabar keluarga, ia meminta agar saya tidak lagi menelpon bapak melalui tetangga. Bapak bercerita, bahwa saat terakhir saya menelpon, di Blitar sedang hujan deras. Karena tidak enak untuk menolak, tetangga saya menerobos hujan untuk memberitahu bapak kalau ada telpon dari saya.

Keesokan harinya, bapak mengetahui kalau dirinya menjadi bahan perbincangan tetangga.

”Malam-malam, mana sedang hujan, udah tahu waktunya orang istirahat nyuruh manggilan orang untuk menerima telpon lagi,” kata si pemilik telpon.

Meskipun itu tidak disampaikan secara langsung kepada bapak, tetapi kata-kata ini akhirnya sampai juga ke telinga bapak. Bapak mengaku sangat malu, dan meminta saya untuk tidak menelpon lagi. ”Pakai surat saja,” katanya.

Saya sedih sekali. Saya tidak ingin apa yang dialami oleh paman terjadi juga pada saya. Pada gajian bulan depan, saya bertekad untuk memprioritaskan membeli handphone untuk bapak. Komunikasi adalah kebutuhan pokok bagi seseorang yang berada jauh dari keluarganya.

* * *

Saat ini, hampir di setiap rumah memiliki handphone. Tidak terkecuali bapak saya. Bukan lagi hal yang aneh, bila kita melihat para petani berkutat dengan lumpur, sementara di pinggangnya terselip sebuah handphone. Sekali waktu, bahkan, saya pernah melihat seorang penggembala sedang mengirim SMS dari punggung kerbaunya. Saat itu menjelang senja. Sinar matahari sore membuat si pengembala terlihat semakin eksostis. Tangan kirinya memegang tali kekang, sedangkan sebelah kanan mempermainkan hanphone.

Handphone bukan lagi barang mewah di desa saya. Apalagi harganya cukup terjangkau, dengan tarif telekomunikasi yang semakin murah. Kondisi ini membuat hidup terasa menjadi lebih mudah. Sekarang saya bisa berkomunikasi dengan Bapak di Blitar dan Paman di Kalimantan, kapanpun saya mau.

Beberapa hari lalu Bapak bercerita kepada saya, kalau saat ini penduduk desa tidak kesulitan lagi menjual hasil pertaniannya. Tinggal menelpon ke pedagang besar, maka tidak berapa lama ia akan datang. Telekomunikasi tidak saja telah membebaskan desa kami dari terisolasi dengan dunia luar, namun juga membuat kehidupan semakin kualitas. (*)

Tulisan ini diikutsertakan dalam XL Award 2009

Iklan
Dikirimkan di Tak Berkategori

4 pemikiran pada “Di Tengah Sawah, di Atas Punggung Kerbau

  1. Tulisan yang mengharu biru, sekaligus mencerahkan. Selaian piawai merangkai kata, anda cukup lihai mengaduk-aduk perasaan pembaca. Saya do`a kan menang dalam XL Award 2009.

  2. Ikut XL Award 2009, ya mas? Dengan cara menulisan seperti ini, kok saya yakin anda akan muncul sebagai pemenangnya. Kemarin juga menang lomba penulisan blog “Aku Cinta Bekasi” kan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s