Merajut Asa di Kota Tapal Batas

Kami yang kini terbaring antara Krawang-Bekasi,
tidak bisa teriak “merdeka” dan angkat sejata lagi.

Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,
terbayang kami maju dan berdegap hati.

Kami sudah coba apa yang kami bisa.
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa.

(Dikutip dari puisi Chairil Anwar berjudul Krawang – Bekasi)

Saya mengenal Bekasi jauh hari sebelum menginjakkan kaki di Kota Tapal Batas itu. Adalah Chairil Anwar yang pertamakali mengenalkannya kepada saya. Selain Chairil, belakangan Pramoedya Ananta Toer juga memberikan andil besar, melalui sebuah novelnya yang berjudul ’Di Tepi Kali Bekasi’. Saya membacanya di perpustakaan SMK Negeri 1 Blitar, awal tahun 2000.

Ketika satu setengah tahun kemudian seorang teman mengajak saya untuk mencari pekerjaan di Bekasi, tanpa ragu saya menyetujui. Bukan apa-apa, novel Pramoedya dan puisi Krawang – Bekasi terlebih dahulu membuat saya terpesona. Sulit untuk menolak ajakan tersebut. Lagipula, ada dorongan yang sangat kuat dalam diri saya untuk melihat dari dekat, seperti apa sesungguhnya daya tarik Bekasi, hingga membuat Pramoedya dan Chairil Anwar mengabadikannya dalam sebuah karya sastra.

Suatu pagi, di bulan Juli tahun 2001 yang cerah, untuk pertamakalinya saya menginjakkan kaki di stasiun Bekasi. Dada saya berdegup kencang. Betapa tidak, kali ini Bekasi bukan lagi ada dalam sebuah novel. Bukan pula dalam sebuah puisi. Bekasi terlihat nyata, dan tumbuh sebagai sebuah kota penyangga ibu kota yang menakjubkan.

Meskipun kemacetan segera menyapa, namun eksotisme kota ini tetap saja membuat saya terpesona. Banyaknya pusat perbelanjaan besar, bank, dan restoran, cukup menarik perhatian. Setidaknya bagi saya yang saat itu baru datang dari desa. Apalagi ketika di kemudian hari saya tahu, bahwa ribuan pabrik dengan berbagai jenis industri bertebaran di wilayah ini. Konsentrasi manufactur terbesar berada di kabupaten, misalnya kawasan Jababeka, EJIP, Delta Silicon, MM2100, BIIE, dan sebagainya.

Kerja Belum Selesai, Belum Apa-apa

Kendati beberapa minggu kemudian saya meninggalkan Bekasi karena mendapatkan pekerjaan di Serang – Banten, namun eksotisme kota patriot yang menggeliat selama 24 jam sehari ini sulit untuk dilupakan. Adalah seorang ibu yang mengamen di dalam sebuah bus membuat hati saya semakin terpaut. Seorang pengamen, yang saya temui ketika hendak meninggalkan Bekasi untuk memulai kehidupan baru di Kabupaten Serang.

Pengamen ini tidak sendiri. Seorang bayi tertidur dengan wajah lelah di dalam gendongannya. Di luar bus, Mal Metropolitan menjadi latar belakang.

“Maaf, mengganggu kenyamanan bapak dan ibu sekalian. Mau numpang ngamen. Sekedar untuk menyambung hidup esok hari…,” sebuah pengantar singkat, sebelum perempuan itu mendendangkan lagu. Jangan ditanya kualitas suranya. Sama sekali tidak enak didengar.

Bukan soal indahnya suara yang membuat dada saya bergetar, tetapi lebih kepada anak kecil yang terkantuk-kantuk di dalam gendongan pengamen itu. Anak kecil, yang seharusnya pada pukul sepuluh malam seperti ini sedang tertidur pulas di dalam kamarnya. Ya, pukul sepuluh malam!

Pemandangan ini sangat kontras dengan apa yang ada di luar sana. Pusat perbelanjaan, sebagai simbol gaya hidup modern ada di kota ini. Sebut saja Mal Metropolitan, Mega Bekasi Hypermal, Bekasi Square, Plaza Pondok Gede, Grand Mal, Bekasi Cyber Park, Bekasi Trade Centre, hingga Carrefour, Giant, Makro, dan Hypermart. Namun, pada saat bersamaan, simbol kemiskinan juga terpampang di depan mata. Sosok pengemis di bus kota yang saya temui di malam itu, selaksa sebuah bisul di tubuh mulus nan elok.

Hari ini, peristiwa itu sudah delapan tahun berlalu. Namun salama itu, informasi tentang Bekasi selalu saya terima. Khususnya yang terkait dengan isu ketenagakerjaan (perburuhan). Karena, memang, saya tergabung dalam sebuah organisasi serikat pekerja. Sebuah organisasi yang dibentuk dari, oleh, dan untuk pekerja baik di perusahaan maupun diluar perusahaan, yang bersifat bebas, terbuka, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab guna memperjuangkan, membela, serta meningkatkan kesejahteraan pekerja dan keluarganya.

Mengingat banyaknya industri manufaktur yang terdapat di Bekasi, intensitas perselisihan hubungan industrial di daerah ini juga terbilang tinggi. Baru-baru ini, misalnya, sebuah serikat pekerja mengancam akan menutup akses masuk ke beberapa kawasan industri apabila tuntutan mereka terkait dengan upah minimum tidak dipenuhi.

Kami sudah coba apa yang kami bisa. Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa. Tiba-tiba saja, suara hati Chairil Anwar menggema dalam jiwa saya.

Kita harus akui, bahwa pembangunan di Bekasi belum selesai. Masih banyak kekurangan terjadi disana-sini. Sebagaimana yang dikatakan Chairil Anwar dalam syairnya: Kerja belum selesai, belum apa-apa. Namun begitu, yang harus kita sadari, untuk mewujudkan Bekasi yang maju dan sejahtera adalah tugas kita bersama. Tanggungjawab seluruh element masyarakat. Siapapun di adanya.

Memajukan Bekasi Melalui Literasi

Bersikap apatis dan berdiam diri, tanpa diikuti oleh upaya nyata untuk memberikan sumbangsih bagi kemajuan Bekasi, adalah sikap bodoh yang sempurna. Yang sebenarnya ingin saya katakan adalah, dengan cara apa agar Bekasi semakin maju di masa mendatang? Secara phisik, laju pembangunan di Bekasi sangat mengesankan. Namun bagaimana dengan non-phisik?

Dukungan yang diberikan oleh Walikota Bekasi kepada Blogger Bekasi patut mendapatkan apresiasi. Tentu saja, ini harus kita maknai sebagai bagian dari kampanye “Cinta Literasi di Bekasi”. Sebab, budaya membaca dan menulis adalah symbol tumbuhnya sebuah peradapan manusia.

Namun tidak cukup hanya di dunia maya, kampanye membaca harus digelorakan secara intensif di tengah-tengah masyarakat. Meminjam kalimat Gola Gong, “Dirikanlah perpustakaan atau taman-taman baca di setiap kecamatan dengan dukungan dana dari APBD (lengkap dengan jaringan internet dan area hot spot). Idealisme memang butuh ongkos. Ini memang pekerjaan marathon dan tidak langsung jadi. Ini adalah ibarat para petani yang menabur benih, kemudian memanennya suatu saat nanti.”

Hampir semua peradapan dimulai dari membaca. Perintah yang datang kepada Muhammad SAW pertamakali adalah seruan untuk membaca. Tengoklah Negara maju yang ada di dunia, masyarakatnya memiliki kebiasaan membaca yang jauh lebih baik. Gerakan ini, cepat atau lambat akan menjadi inspirasi bagi segenap masyarakat untuk lebih mencintai dan peduli terhadap kota Bekasi.

Masyarakat yang memiliki mindset berfikir positif. Yang menghargai perbedaan, menyampaikan pendapat dengan cerdas dan elegan, serta menjauhi cara-cara kekerasan untuk memaksakan pendapatnya. Semoga ini bisa segera diwujudkan. (*)

Ditulis Oleh: Kahar S. Cahyono
Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Penulisan Blog Blogger Bekasi

Catatan: Artikel ini juga bisa diterbitkan di Blogger Bekasi dot com pada tanggal 27 Desember 2009.

Iklan
Dikirimkan di Tak Berkategori

26 pemikiran pada “Merajut Asa di Kota Tapal Batas

    1. Terima kasih, pak. Nyaris tidak percaya dengan anugerah yang diberikan Allah SWT melalui perlombaan “Aku Cinta Bekasi”. Betapa ini tidak terduga, sehingga memilih menunggu informasi lebih lanjut dari panitia *)

  1. Selamat mas Kahar atas kemenangannya. Pemberian hadiah akan dilakukan seusai upacara HUT Kota Bekasi ke-13 tanggal 10 Maret 2010. Pemberian hadiah akan dilakukan langsung oleh Pak Walikota. Dimohon kehadirannya pada acara tersebut. Kalau ada nomor telepon yang bisa dihubungi silahkan kirim ke email saya.

    Salam

  2. selamat mas kahar
    tulisan anda sungguh bagus dan mempunyai karakter yang sangat kuat
    saya harus banyak belajar dari mas kahar untuk membuat tulisan seperti ini

    sekali lagi selamat

    1. Terima kasih. Semoga ini bukan menjadi akhir, saya sudah berjanji pada diri saya sendiri untuk terus aktif menulis di BeBlog. “Kerja belum selesai, belum apa-apa” tulis Chairil Anwar dalam puisiny terus mengiang di telinga saya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s