Menemukan Cinta dari Kota Romantis di Dunia

Membaca “Paris Lumiere de l’Amour : Catatan Cinta dari Negeri Eiffel”, ibarat membuka diary milik penulisnya. Setiap bagian adalah cerita tersendiri. Pembaca seperti diajak bertamasya ke kota nan romantis di dunia, hingga ke ujung gang yang paling sempit sekalipun. Lengkap dengan ilustrasi foto di dalamnya.

Rosita Sihombing, sang penulis, begitu pandai mencurahkan perasaannya untuk mengaduk-aduk hasrat keingintahuan pembaca terhadap Kota Paris. Barangkali inilah yang membuat kita seperti menatap kemegahan Effel, langsung dengan dua mata kita. Membuat kita bisa merasakan bagaimana kaki ini menginjak China Town, Surga Belanja Orang asia. Memesan bahan makanan ala Indonesia, sayur kangkung, sawi, kacang panjang, dan sebagainya. Juga aneka buah-buahan khas Asia, termasuk makanan kalengan seperti kelapa muda, kolang-kaling, rambutan dan masih banyak lagi (hal 31 – 34)

Buku ini mengingatkan kita dengan novel-novel fenomenal sekelas Ayat-ayat Cinta dengan cerita Mesir dan sungai Nil-nya. Juga Laskar Pelangi-nya Andrea Herata yang mengambil setting Bangka Belitong. Bedanya, Kota Paris, yang dituturkan dengan gaya memorial, justru hidup di dalamnya. Bayangkan, soal keju, misalnya, yang disana menjadi menu utama, juga diceritakan dalam buku ini. Sebuah penuturan yang benar-benar detail. (hal 51 – 52).

Lagi-lagi, buku yang ditulis menyerupai “memoar” ini begitu dekatnya dengan realitas yang sebenarnya.

Belum hilang rasa kagum kita pada kemegahan Eiffel dan keindahan Champs-Elysees, kita juga bisa mengintip sisi negatif kota Paris. Keseimbangan antara sisi positif – negative inilah yang membuat kita selaksana hidup bertahun-tahun di kota ini. Menantikan asyiknya 14 Juli, tanggal yang amat bersejarah bagi masyarakat Perancis. Pada tanggal tersebut, tepatnya tahun 1789 ketika Louis XVI berkuasa, revolusi Perancis meletus. Runtuhnya penjara Bastille merupakan awalnya. Setiap tanggal 14 Juli, masyarakat Perancis mengadakan perayaan diantaranya pesta kembang api dan parade militer (hal. 61 – 64).

Diluar kecantikan wajah kota, seperti negeri sekuler lainnya, Perancis tidak begitu bersahabat dengan Muslim. Inilah setidaknya pesan yang ingin disampaikan dalam Bab 5, Saat Muslim Bukan Mayoritas. Contohnya, sekolah-sekolah negeri tidak diperkenankan memberikan mata pelajaran agama kepada siswanya. Para siswa, tenaga pengajar, pegawai di sekolah negeri, sampai pegawai di lembaga milik pemerintah dilarang mengenakan jilbab, salib agama Kristen dan topi yarmulke agama Yahudi. (hal. 102 – 107).

Buku ini juga diwarnai dengan kritik sosial. Misalnya tentang bagaimana penanganan pengangguran (pengemis) di Perancis. Disana, pengangguran mendapat semacam BLT dari pemerintah. Jadi teringat akan istilah yang sering disandingkan dengan Indonesia, sebagai : Negara Tanpa Jaminan Sosial.

Sayangnya, ditengah keseriusan membaca, ada sedikit keganjilan di halaman 104. Dimana bunyi Firman Allah Swt tidak dituliskan, namun tiba-tiba sudah muncul ditengah-tengah buku.

Ada cerita yang terpenggal, saat kita membaca tentang tempat penitipan bayi. Naluri kita untuk mengetahui bagaimana proses persalinan disana harus tertunda, karena ternyata proses kelahiran di Paris diceritakan di bagian lain. Mungkin tujuannya agar pembaca menjadi penasaran, namun buat saya, itu sungguh menggemaskan.

Ditulis oleh, Kahar S. Cahyono.

Tulisan menjadi Pemenang Terbaik Tiga dalam Lomba Resensi Buku: Paris Lumiere de l’Amour (Catatan Cinta dari Negeri Eiffel) yang diselenggarakan Lingkar Pena Publishing House.

Posted in Tak Berkategori

2 thoughts on “Menemukan Cinta dari Kota Romantis di Dunia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s