Tak Menyerah dengan Usia (Sebuah Catatan Cinta Tuk Mengenang Seorang Ibunda)

Sekilas tidak ada yang istimewa dari sosok yang tidak lagi muda ini. Jangankan satu kabupaten, di tingkat kecamatan saja, tidak semua orang mengenalnya. Namanya Murik (60 tahun). Cukup singkat bukan? Namun jangan salah, dibalik nama yang singkat itu, ia telah menorehkan banyak hal dalam kehidupan ini. Anak-anaknya memanggilnya, Emak.

Masih lekat dalam ingatan saya, saat air sungai pasang, Emak menyempatkan diri untuk menjaring ikan dengan menggunakan tangkul dari atas rumah panggungnya. Ya, rumah emak memang berada tidak jauh dari sungai. Tepatnya di Sei Gerong, Musi Banyuasin. Sumatera Selatan. Tangkul itu diturunkan di air, lalu di dalamnya ditaruh sedikit nasi. Tidak berapa lama kemudian, ikan-ikan kecil sebesar kelingking anak kecil mengerumuni nasi itu. Pada saat itulah, tangkul diangkat. Ups, dapat!

Sungai yang berada di dekat rumah Emak tersambung dengan Sungai Musi yang terkenal di Palembang itu. Ketika sore hari Sungai Musi pasang, anak sungai yang berada di dekat rumah Emak ikut pasang. Begitu juga sebaliknya, ketika sungai terbesar di Palembang itu surut, sungai emak juga surut.

Jangan bayangkan Emak mendapat ikan banyak. Hanya untuk dikonsumsi sendiri. Biasanya oleh emak ikan-ikan itu dibuat godo iwak. Terkadang dihaluskan untuk campuran membuat pempek atau tekwan. Namun dari ketekunannya itulah, emak berhasil menyediakan lauk pauk yang lezat bagi anak-anaknya.

Di Musi Banyuasin, emak hanyalah perantau. Ia berangkat ke daerah ini sejak kecil, karena diajak orang tuanya mengikuti program transmigrasi. Emak berasal dari Kampung Pasir Bonong, sebuah kampung terpencil di Kabupaten Serang, Banten. Sebelum industrialisasi diperkenalkan di daerah ini, kehidupan masyarakat memang sulit. Apalagi tanah yang ada tidak cocok untuk lahan pertanian, dan itupun hanya mengandalkan dengan sawah tadah hujan. Sampai saat ini pun, tidak ada kendaraan umum yang menghubungkan ke kampung Emak.

Bersama emak, ada juga beberapa orang dari Serang yang merantau ke Sumatera Selatan. Namun setelah melihat pembangunan di Serang mulai berjalan, tidak sedikit yang memutuskan pulang kampung. Hingga pada akhirnya, di Plaju, tinggalah emak sendirian. Menjadi satu-satunya transmigran yang tersisa di kampung tersebut.

Alasan emak cukup sederhana, ia tidak ingin meninggalkan pusara suaminya yang sudah berpulang ke Rahmatullah sejak 15 tahun yang lalu. Emak begitu menghormati laki-laki yang telah memberinya 7 anak dari hasil perkawinannya itu. Banyak kenangan indah yang sudah ia rangkai bersama di Sumatera Selatan ini. Dan itu semakin melekatkan hatinya, untuk tidak meninggalkannya begitu saja.

Menghitung keistimewaan emak, cukuplah saya sebutkan bahwa perempuan ini sukses memiliki dan berhasil membesarkan 7 orang anak. Saat itu, program KB gencar dikampanyekan oleh pemerintahan orde baru. Namun ia dan suaminya yang seorang guru mengaji, Muhammad Darif, tidak bergeming dengan propaganda itu. Orang Banten memang dikenal dengan pemahaman agamanya. Dikenal sebagai santri. Oleh karena itulah, semasa hidup, suami emak dipercaya untuk mengurus masjid yang letaknya tidak jauh dari rumah.

“Dulu, saat anak-anak masih kecil, kalau malam sulit tidur,” ujarnya mengenang. Bukan karena banyak nyamuk, tetapi karena kecilnya rumah, yang membuat para penghuninya berhimpit.

Jangan membayangkan emak memiliki pekerjaan yang mapan, dengan penghasilan besar. Semasa hidupnya, suami emak hanyalah pembuat parut dari drum bekas. Aktivitasnya sebagai guru mengaji, tidak usah dimasukkan dalam klasifikasi pekerjaan baginya. Meskipun mengajar ngaji juga bekerja, namun jangan dikira mendapatkan gaji dari pekerjaan itu. Toch, ia sudah merasa cukup dengan pahala yang dijanjikan Allah. “Tidak mau menukar ilmu Allah dengan harga murah,” ujar emak satu ketika.

Maka ketika suaminya meninggal, ia tidak mewariskan apa-apa, kecuali ilmu. Anak-anak masih kecil saat itu. Namun emak tetap tabah, bahwa hidup harus dilanjutkan. Bahwa ada hari esok. Sejak saat itu, emak dibantu dengan anak-anaknya bahu membahu meneruskan usaha pembuatan parut ayahnya.

Emak sendiri sering diundang sebagai juru masak ketika ada warga yang hajatan. Masakan emak dikenal enak, oleh karenanya banyak yang meminta tolong kepadanya. Sebagai imbalannya, ketika pulang emak diberi oleh-oleh: beras, kelapa, telor, bahkan sabun mandi. Single parent, jauh dari sanak keluarga, membuatnya harus bekerja lebih keras.

“Emak selalu berusaha dekat dengan masjid. Dengan tetangga terdekat rumah. Semua muslim adalah saudara kita, merekalah yang emak mintai tolong bila sedang mengalami kesulitan,” ujar emak menceritakan rahasianya bisa bertahan di rantauan.

Maha benar Allah dengan segala janji-Nya. Bahwa siapa yang bersungguh-sungguh berusaha, akan selalu ada jalan. Saat ini ketujuh anaknya sudah bekerja dan memberinya 10 orang cucu. Ada yang di Batam, Bengkulu, Lampung, Serang, dan Purwakarta. Salah satu anak emak, Maimunah, menjadi istri saya. Saya beruntung menjadi bagian dari kehidupan orang-orang hebat ini.

Emak sendiri tidak bisa membaca dan menulis. Namun jangan ditanya soal kemampuanya mengaji. Hingga sekarang, ia masih menyempatkan untuk tadarust bakda shalat Subuh. Meskipun hanya sebentar.
Kerinduannya untuk beribadah haji dari tahun ke tahun bukannya semakin redup, tetapi semakin menggelora. Ini saya ketahui tidak lama setelah resmi menjadi menantu emak. Pernikahan saya dilaksanakan pada bulan haji, ketika banyak orang bersiap berangkat ke tanah suci.
Kepada setiap warga desa yang hendak menunaikan ibadah haji, emak selalu berpesan, “tolong panggil nama saya.” Harapan emak cuma satu, saat namanya dipanggil di depan Ka`bah, ia akan segera mendapat berkah untuk bisa menyusul ke Tanah Suci.

“Batas usia emak semakin berkurang, maka emak harus lebih banyak berdoa agar diberi kesempatan untuk pergi ke tanah suci, meski hanya sekali,” kalimat yang selalu saya kenang, hingga sekarang.

Saya sendiri tidak tahu, dengan cara apa emak akan berangkat menunaikan rukun islam yang kelima itu. Ach, saat menulis ini, saya menjadi malu sendiri ketika bila mengingat pernah meragukan keinginan emak. Setidaknya emak sudah memiliki niat. Lha saya? Hanya karena dalam hitung-hitungan matematis tidak mempunyai dana yang cukup untuk berangkat, akhirnya, berniat pun tidak.

Keinginan ada. Tapi berniat? Bahkan lebih suka berlindung dibalik kata-kata, “naik haji jika mampu.” Lalu nyaris tidak melakukan daya dan upaya.

“Jangan lupa panggil nama emak, ya?” Entah yang keberapa puluh kali saya mendengar kalimat itu diucapkan emak. Namun kali ini tekanan suaranya berbeda. Ada getar halus dalam nada yang keluar. Apalagi, emak mengucapkannya sambil terisak.

Betapa tidak, saat itu, emak berpesan kepada anak kandungnya sendiri. Anak keempat emak, Marzuki, memberitahu akan beribadah haji.
Anak emak naik haji?

Ya, Marzuki beruntung bisa memenuhi panggilan Allah, karena saat itu ia sedang menjadi TKI di Arab Saudi. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh lelaki yang telah memberi emak satu orang cucu ini untuk memenuhi paggilan Allah untuk beribadah haji. Selagi masih menginjakkan kaki di Tanah Suci, betapapun, kesempatan berharga ini tidak boleh disia-siakan.

“Allah telah mengabulkan do`a emak melalui kak Juki,” kata saya kepada istri. Istri tidak segera menjawab, namun jelas terlihat, matanya berkaca-kaca. “Ia sudah berdoa sejak saya masih kecil,” kenangnya. “Mencoba menabung sedikit demi sedikit ketika Bapak masih hidup, lalu seluruh tabungan itu habis untuk biaya makan kami sehari-hari ketika Bapak meninggal dunia,” kalimat panjang yang membuat saya terdiam.

Kerinduan emak terhadap tanah suci tergambar jelas di matanya. Bagi perempuan yang sudah tidak lagi muda itu, harapan untuk menyempurnakan rukun Islam yang kelima nyaris tinggal harapan. Namun ia tidak pernah berhenti berdo`a, untuk anak-anaknnya. (*)

Ditulis Oleh: Kahar S. Cahyono
Penulis/Citizen Journalism dan Praktisi Ketenagakerjaan

Iklan

Satu pemikiran pada “Tak Menyerah dengan Usia (Sebuah Catatan Cinta Tuk Mengenang Seorang Ibunda)

  1. Alhamdulillah, luar biasa. tulisan yang mencerahkan dan banyak menginspirasi agar lebih menghormati dan menyangi orang tua kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s