Bukan Sekedar Berkomunikasi

Kemajuan telekomunikasi sedemikian mengesankan. Ia tidak saja memudahkan kebutuhan manusia untuk berkomunikasi. Namun, telekomunikasi sudah menjadi bagian dari life style. Menjadi bagian dari gaya hidup. Bahkan, rasanya, aktivitas manusia tidak bisa lagi dipisahkan dari media yang satu ini.

Hal itu berdasarkan penuturan seorang kawan, yang mengaku seperti tengah berada di dalam hutan belantara manakala handphonenya ketinggalan. Komunikasinya dengan sahabat dan rekan bisnis terputus. Maka tidak bisa disangkal, telekomunikasi hadir untuk memberikan kemudahan. Merobohkan batas-batas teritorial, sehingga komunikasi menjadi mungkin dilakukan meskipun keduanya dipisahkan oleh jarak yang membentang.

Begitu ketatnya persaingan antar operator telepon seluler dalam memberikan fasilitas terbaik bagi konsumen, maka bagi masyarakat, tidak jarang memilih operator yang akan digunakan untuk telpon selulernya adalah pertarungan harga diri. Pernyataan seperti punyaku sinyalnya lebih kuat, pulsanya lebih irit, serta banyak bonusnya, seringkali mewarnai percakapan di masyarakat.

Ini mirip dengan suporter sepak bola yang menggandrungi kesebelasan pujaannya. Popularitas dan kemenangan tim adalah kebanggaan baginya, sebaliknya, menurunnya popularitas akan membuat kecewa. Begitu juga dalam pemanfaatan telekomunikasi untuk dunia usaha, hal-hal yang saya sebutkan di atas menjadi bahan pertimbangan.

Telekomunikasi Untuk Pengembangan Usaha Kecil

Salah satu penerapan media telekomunikasi adalah untuk penerapan usaha kecil. Depot Air Minum Isi Ulang yang berlokasi di Kibin – Serang, misalnya, bisa kita jadikan referensi. Depot air minum itu tahu betul bagaimana memanfaatkan keberadaan telekomunikasi untuk meningkatkan kapasitas penjualannya. Modusnya adalah dengan menggunakan layanan SMS. Dimana pelanggan tidak perlu keluar rumah, cukup mengirim pesan pendek, pengelola akan dengan senang hati mengantarkan ke tempatnya tinggal.

”Kebanyakan yang menggunakan fasilitas ini adalah yang handphone-nya satu operator dengan kita,” ujar Didik, pengelola Depot Air Minum Isi Ulang, saat menjelaskan efektivitas dari strategi penjualan berbasis SMS.

Pernyataan Didik mengandung arti, bahwa murahnya tarif untuk melakukan komunikasi sangat berperan dalam perkembangan usahanya. Hal ini karena adanya anggapan dari pelanggan, bahwa biaya SMS juga dihitung sebagai nilai yang harus dikeluarkan oleh konsumen. Dengan kata lain, pembeli tidak saja harus membayar harga air minum, namun, juga mengeluarkan biaya atas SMS yang mereka keluarkan.

“Beda seratus perak pun akan membuat pelanggan berpaling ke tempat lain,” ujar Didik.

Mari kita tinggalkan Didik dengan usaha Depot Air Minum Isi Ulang-nya, sekarang kita beralih kepada Forum Solidaritas Buruh Serang (FSBS), sebuah elemen ketenagakerjaan yang berada di Kabupeten Serang. Menariknya, dalam rangka memperbanyak koleksi buku-buku perpustakaan yang diperuntukkan untuk para tenaga kerja, petugas perpustakaan menjual kartu perdana dan voucher pulsa.

”Keuntungan dari penjualan kartu perdana ini yang kami gunakan untuk melengkapi koleksi buku di Perpustakaan FSBS,” ujar Kamaludin, salah seorang pengelola perpustakaan.

Kamaludin berasumsi, bahwa saat ini hampir semua orang (khususnya karyawan) memiliki handphone. Hitungannya sederhana saja, dengan menerapkan sistem multilevel marketing dalam melakukan penjualan kartu perdana dan voucher pulsa, maka setiap bulan mereka sudah mendonasikan sejumlah uang untuk memajukan dunia literasi. Mereka tidak menyumbang secara cuma-cuma, karena toh mau tidak mau, setiap bulan pulsa harus diisi. Dengan demikian perpustakaan, sebagai gudang ilmu tetap terhormat karena dana yang didapat tidak berdasarkan padap belas kasihan orang.

Menjual voucher pulsa sebenarnya bukan hal baru. Banyak orang yang memanfaatkan ini sebagai ladang bisnis mereka. Dari yang mendirikan Warung Pulsa, hingga yang memanfaatkan sistem member seperti Dynasis, DBS, dan sebagainya.

Apa yang dilakukan Didik dan Kamaludin adalah sebuah contoh kecil orang-orang yang memanfaatkan telekomunikasi dalam aktivitas yang mereka lakukan. Bila secara tegas Didik memanfaatkan ini untuk mengembangkan usaha kecil miliknya, maka Kamaludin lebih untuk lini sosial-edukasi (literasi). Namun, esensinya sama. Sama-sama memanfaatkan prinsip ”berjualan”, yang dalam bahasa lain adalah mengembangkan usaha kecil di masyarakat.

Ditulis Oleh: Kahar S. Cahyono
Penulis/Citizen Journalism dan Praktisi Ketenagakerjaan

Tulisan ini diikutsertakan dalam XL Award 2009

Posted in Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s