FFI – Mental Juara – Tahun Baru Hijriyah

Sabtu pagi (18/12/2009), saya berkesempatan menoton siaran ulang Festival Film Indonesia 2009. Hanya siaran ulang, namun rasanya tidak berbeda dengan menonton acara itu secara langsung. Sederhana saja, karena memang saya tidak menonton saat FFI 2009 disiarkan secara live.

Saya menonton acara itu sembari menulis sebuah artikel untuk XL Award 2009. Di layar kaca, wajah-wajah cerah terlihat semakin merekah. Mereka yang terpilih mendapatkananugerah FFI 2009, tampil ke depan dengan penuh kemenangan. Bahkan, Boediono, Wakil Presiden RI berkesempatan memberikan sambutan. Tidak nampak sekali guratan permasalahan Century di wajahnya.

Hingga tibalah saat penganugerahan Pemeran Utama Pria Terbaik, yang akhirnya jatuh kepada Tio Pakusadewo. Ada sebuah kekuatan besar yang membuat saya menghentikan menulis. Saya merasa, bahwa yang berjalan untuk mengambil piala adalah seorang Kahar S. Cahyono. Bukan Tio Pakusadewo. Lagipula, saya sedang mempersiapkan diri untuk ikut kompetisi menulis yang diselenggarakan XL. Senang saja membayangkan bisa menggenggam sebuah predikat jawara.

Ini masalahnya, karena seorang juara bukanlah tercipta dengan tiba-tiba. Kekalahan selalu mengintai, bahkan akan menenggelamkan siapa saja yang tidak bermental pecundang. Saya kalah dalam Lomba Tulis Artikel Nasional “Cinta Perpustakaan Indoenesia”, gagal dalam Lomba Menulis Emak Ingin Naik Haji, juga tidak berhasil dalam lomba menulis Aku dan Bank. Puluhan artikel saya ditolak media, dan selalu kandas di tengah jalan setiap kali mencoba menulis novel.

Masih pantaskah dengan rekam jejak seperti itu saya menjadi bintang? Pertanyaan ini membetot batin saya.

Jangan salah paham, saya tidak begitu risau dengan kekalahan-kekalahan itu, sebenarnya. Hanya saja, saya begitu khawatir akan berhenti di tengah jalan. Saya hanya mempraktekkan apa yang disarankan oleh Rs. Rudatan dalam bukunya. Menulis, kirim ke media, lupakan, dan menulislah kembali. Siapa tahu, dari seratus artikel yang saya buat, satu diantaranya ada media yang bersedia memuatnya.

“Tidak ada penulis malas,” kalimat ini pernah diungkapkan oleh Joni Ariadinata. Raja cerpen Indonesia. Betapa tidak, ratusan bahkan ribuan artikel dibuat orang setiap hari, dan kita harus bersaing dengan mereka. Bila kita malas untuk menulis, sudah pasti kita akan terlibas.

Mudah-mudahan, saya tidak saja menulis artikel ini. Tetapi juga mempraktekkannya dalam dunia nyata. Untuk tidak menjadi pecundang. Untuk tidak menyerah dengan keadaan dan kesulitan yang mendera.

Apalagi hari ini 1 Muharram 1431 H, yang bertepatan dengan tanggal 18 Desember 2009. Tahun baru Islam. Sebuah momentum untuk menginstal ulang semangat dan tekad dalam mendaki puncak prestasi. (*)

Kamar Kontrakan, 1 Muharram 1431 H.

Ditulis oleh: Kahar S. Cahyono
Penulis/Citizen Journalism dan Praktisi Ketenagakerjaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s