Itu Bukan Cinta, Non!

Banyak orang memahami kesetaraan gender hanya dalam pekerjaan. Padahal, dalam kehidupan sehari-hari banyak juga ketidakadilan terjadi. Soal cinta-mencintai, misalnya, ternyata begitu kuat menempatkan perempuan dalam subordinate laki-laki. Luput dari perhatian?

Sebut saja Nona, bukan nama sebenarnya, karyawati perusahaan swasta yang berlokasi di Balaraja-Tangerang. Maklum sedang jatuh cinta, bagi Nona, pacar adalah segalanya. Membuat Nona rela melakukan apapun demi si dia. Membawakan sarapan pagi (Nona dan pacarnya bekerja di perusahaan yang sama), membuatkan teh manis, dan hal lain yang menggambarkan kesetiaan seorang wanita kepada kekasihnya.

Seperti pepatah, madu dibalas air tuba, begitu pula yang dialami Nona. Entah karena sedang dibutakan oleh cinta, atau karena apa, Nona diam saja kendati tak jarang pacarnya berperilaku keras terhadap dirinya. Cemburu berlebihan, membentak, melarang Nona melakukan aktivitas terntentu, bahkan sekali waktu memukul ketika mereka sedang bertengkar. Cinta yang digambarkan lemah lembut dan penuh kasih, bermuara pada kekerasan.

Beberapa kawan di kantor sempat mengingatkan agar Nona berani melawan. Tidakan si pacar dianggap sudah bias gender. Tidak menghargai perempuan. Bahkan, ada yang dengan sengaja mencetak leaflet yang diambil yang di download dari internet, dan menaruhnya di meja Nona, agar gadis itu segera menyadari bahwa dirinya sudah menjadi korban:

Apa yang Harus Anda Lakukan Jika Menjadi Korban Saat Berpacaran:

* Kita berhak atas tubuh dan jiwa kita, tak seorangpun berhak menganggu-gugat. Sedekat apapun hubungan kita dengan si pelaku kekerasan, ia tetap dapat dihukum, maka segeralah melapor ke kepolisian jika menjadi korban.
* Meski saling cinta, tidak berarti pasangan boleh bertindak semau gue terhadap kita.
* Harus berani menolak dan berkata ‘TIDAK’ jika si dia mulai melakukan kekerasan.
* Hati-hati terhadap rayuan dan janji-janji manis si dia. Jika terjadi pemaksaan hubungan seksual, si dia bisa aja berdalih bahwa hal itu dilakukan suka sama suka.
* Jika ada perjanjian, buatlah secara tertulis dengan dibubuhi materai dan disertai saksi.
* Jika menjadi korban, kita berhak kok, merasa marah, kuatir dan merasa terhina.
* Laporkan ke polisi atau pihak berwenang lain, jika mengalami kekerasan.
* Mintalah Lembaga Bantuan Hukum untuk mendampingi.
Sumber: LBH APIK

Saya tidak akan menceritakan kepada anda apa reaksi Nona setelah membaca leaflet itu. Hanya saja, dari cerita di atas, kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa masih banyak perempuan yang tidak memahami bahwa mereka berada dalam posisi tersubordinasi. Kasus Nona menggambarkan dengan jelas, bagaimana pertarungan konfrontatif perempuan vis a vis dengan aki-laki terjadi.

Bisa jadi Nona mengatakan bahwa itu adalah cinta. Dimana perempuan – yang oleh struktur sosial – digambarkan sebagai pihak yang harus mengalah. Sehingga apapun perintah dan perlakuan laki-laki (suami) terhadapnya harus diterima dengan lapang dada.

Tapi status Nona bukan sebagai istri. Masih berpacaran.

Apalagi itu!

Nampaknya mereka yang tidak memahami esensi kesetaraan gender (gender equality) sudah mulai membajak ranah percintaan. Wilayah hati. Dia bilang itu cinta, padahal yag sebenarnya terjadi adalah dominasi sebuah ‘ego’ yang tidak mau mengalah dan mengerti. Berapa banyak perempuan yang menjadi korban, karena ketidakmampuannya berdiri sejajar dengan laki-laki saat mengikrarkan kata cinta? Fakta ini sudah lama diketahui publik, namun tidak banyak yang mengungkap, bahwa ini merupakan penistaan paling serius terhadap harkat dan martabat perempuan.

Beberapa hari ini, saya mencoba mengamati perilaku siswa-siswi SMU ketika berinteraksi dengan teman yang berlainan jenis. Kebetulan, tempat saya bekerja tidak jauh dari sebuah SMU Swasta. Tiap hari, ada saja sekelompok siswa laki-laki yang nongkrong di halte sekolah dan menggoda teman perempuannya, masih satu sekolahan. Entah itu dengan pandangan ‘nakal’, suitan, dan kata-kata melecehkan. Uniknya, dari hari ke hari, selalu kelompok laki-laki yang sama yang melakukan itu.

“Apakah kebiasaan ini sudah berubah menjadi sikap?” Pertanyaan kritis ini patut untuk diajukan.

Cobalah sekali waktu untuk menyempatkan diri bagaimana pada umumnya para pelajar itu berpacaran? “Pacar gue adalah milik gue, tidak ada seorang pun boleh mengganggu,” kalimat yang sempat membuat saya terperangah. Betapa tidak, kata-kata itu keluar dari anak muda berseragam abu-abu putih, di sebuah bus kota. Busyet, kekasihnya disetarakan dengan sebuah barang yang bisa ia miliki dan gunakan sekehendak hati. Apakah dengan alasan yang sama, tawuran untuk memperebutkan pacar juga dianggap sah dilakukan?

Riset kecil-kecilan di atas mengingatkan pada kenangan lama, saat duduk di bangku STM. Meskipun mayoritas laki-laki, namun ada juga siswi perempuan yang berminat mengambil jurusan Bangunan, Automotif, Listrik, bahkan Mesin Perkakas. Dulu, saya juga sempat terjebak dalam paradigma berfikir bahwa kesetaraan gender hanya dilihat secara kuantitatif. Dihitung dari berapa jumlah perempuan yang terjun dalam pekerjaan (aktivitas) yang secara tradisional didominasi oleh laki-laki. Bukankah inti dari kesetaraan gender bukan meneguhkan siapa yang mendominasi dan didominasi? Melainkan menemukan koridor untuk saling berbagi secara adil dalam segala aktivitas kehidupan tanpa membedakan pelakunya laki-laki ataupun perempuan?

Dari sana saya bisa memahami, bahwa sistem budaya di Indonesia yang berakar pada patriarki memang cukup memberikan pengaruh dalam upaya mewujudkan kesetaraan gender. Ketika suku-suku yang ada di Indonesia mayoritas menerapkan pembagian tugas yang dianggap normal adalah jika laki-laki menangani kegiatan produktif, dan perempuan menangani kegiatan domestik seperti mengasuh anak dan mengurus rumahtangga. Bagaimana tidak, hal ini sudah berlangsung selama ratusan tahun.

Selama dilakukan tanpa adanya rasa terpaksa antara satu dengan yang lainnya, saya kira itu bisa dipahami. Namun ketika kemudian relasi itu berubah menjadikan laki-laki sebagai penakluk (conquerer) dan perempuan adalah pihak yang ditaklukkan (conquered), jelas tidak bisa lagi ditolerir. Hal ini juga berlaku sebaliknya. Sebab, dalam beberapa kasus – meskipun sedikit – ada juga perempuan yang nyata-nyata menaklukkan suaminya.

Lantas siapa yang bertanggungjawab terhadap terwujudnya gender equality?

“Laki-laki!”

Mayoritas kawan yang saya tanya menjawab itu. Oho, tanpa mereka sadari, jawaban di atas sekaligus meneguhkan lekatnya budaya patriakhi di negeri ini. Seolah-olah laki-laki selalu serba bisa. Dengan jawaban itu, sebenarnya yang dipikirkan laki-laki adalah bahwa dia-lah yang pantas dan bisa melindungi wanita. Menempatkan wanita sebagai subordinate. Saya sendiri laki-laki, setidaknya bisa menduga kemana jawaban itu akan bermuara.

Padahal, kita banyak melihat keluarga single parent: Kebanyakan dari perempuan bisa lebih sukses menjadi ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Dibandingkan dengan laki-laki, sedikit sekali dari mereka yang bisa menjadi ayah sekaligus ibu bagi anak-anaknya. Dunia hari ini berada di pihak kalian, wahai kaum perempuan. Maka beranilah untuk bercita-cita dan berkarya, apapun yang kalian kehendaki (*)

Ditulis Oleh: Kahar S. Cahyono
Penulis/Citizen Journalism dan Praktisi Ketenagakerjaan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s