Ancaman Teror Saat Mudik Lebaran

Peringatan Menkominfo, Mohammad Nuh, untuk mewaspadai aksi teroris saat mudik lebaran 2009, memang harus direspon dengan sepenuh hati. Jangan sampai kekhawatiran itu terbukti dan menodai kesucian idul fitri. Apalagi bila menyebabkan jatuhnya banyak korban, tentu kerinduan untuk bertemu dengan sanak keluarga di kampung halaman bertepuk sebelah tangan.

Sepanjang ingatan saya, saat mudik hari raya, teror terhadap para pemudik memang terus terjadi. Jangan salah menduga, teror yang saya maksudkan bukan berasal dari kelompok Nordin M. Top. Teror yang saya maksudkan berupa: (1) Kemacetan; (2) Sulitnya mendapatkan tiket; dan (3) Tingginya angka kecelakaan; (4) Kejahatan di jalan raya.

Setelah saya analisa kembali, saya berkeyakinan bahwa keempat hal itulah yang sesungguhnya telah meneror publik. Fakta dibawah ini akan semakin membuat kita mengerti, bahwa hal di atas merupakan ancaman teror yang nyata. Merenggut nyawa ratusan orang setiap tahunnya, dengan kerugian materi yang tak terhingga. Sesuatu yang layak mendapat perhatian serius, ketimbang mengumbar isu bahwa teroris akan menyerang dengan sebuah bom

Hal pertama yang akan menghadang pemudik adalah macet. Penyebab bermacam-macam. Mulai dari pasar tumpah, padatnya arus kendaraan, hingga infrastruktur jalan yang belum selesai diperbaiki. Apalagi, sebagaimana kita ketahui, rentang jarak menuju Sumatera, Jawa Tengah, hingga Jawa Timur merupakan jarak tempuh yang melelahkan. Disaat lancar pun membutuhkan waktu belasan jam di jalan untuk sampai ke tempat tujuan. Kemacetan, menyerang psikis dan hilangnya kesabaran seseorang, yang berpotensi menimbulkan kecelakaan yang lebih besar.

Diluar kemacetan yang terjadi, nampaknya teror lain yang dihadapi pemudik adalah kehabisan tiket. Jangankan untuk mudik, untuk balik ke Jakarta pun, tiket kereta api sulit untuk didapatkan. Sebuah keresahan tersendiri, yang juga nyaris berulang sepanjang tahun.

Apalagi sudah menjadi rahasia umum di masyarakat, yang sebenarnya terjadi bukan karena tiketnya yang habis. Tetapi sudah beralih ke tangan para calo, yang kemudian menjualnya kembali dengan harga dua kali lipat lebih tinggi. Mudik, yang sudah lekat dengan ”budaya” bangsa ini, mendadak menjadi ritual tahunan yang paling mahal dan menyebalkan.

Teman saya mengaku membatalkan mudik ke Madiun karena mendapat informasi keluarganya gagal mendapatkan tiket untuk balik lagi ke Jakarta. Ia merasa terpukul, karena inilah satu-satunya kesempatan libur panjang yang diberikan perusahaan. Sebenarnya ia bisa saja mencari jalan alternatif dengan membeli tiket secara langsung pada hari keberangkatan, namun cara ini juga bukannya tanpa resiko. Selain membayangkan antrian panjang, berdesakan, dan belum tentu bisa berangkat pada saat itu juga. Apalagi ia mengajak istri dan dua anaknya yang masih kecil.

Tentang kecelakaan, pada tahun 2007 mencapai 1.875 kasus, dengan korban tewas mencapai 798 orang. Sementara pada tahun 2008 jumlah kecelakaan mencapai 1.368 yang mengakibatkan 633 korban tewas. Ya, ratusan orang meninggal setiap tahun, sebuah deretan nominal yang menakutkan. Faktor kelalaian pengemudi, kelayakan kendaraan serta jalan, dan sedikitnya lampu penerangan seringkali ditunjuk sebagai kambing hitam. Sesuatu yang sebenarnya bisa dicegah agar tidak terulang kembali.

Larangan bagi pemudik menggunakan sepeda motor yang melampaui kapasitas, merupakan langkah maju dan berani untuk meminimalkan kecelakaan di jalan raya. Kendati untuk kebanyakan orang larangan tersebut cukup mengecewakan. Apalagi selama ini sepeda motor terbukti menjadi alat yang ampuh bagi mereka yang kesulitan mendapat tiket.

Pada akhirnya, sulit untuk tidak mengatakan, bahwa di jalan pun ternyata belum tentu keamanan akan terjamin. Bahkan penuhnya semua angkutan umum dan kelengahan dalam pergerakan massa yang luar biasa banyaknya, seringkali dimanfaatkan orang-orang yang bermaksud jahat untuk menjalankan aksinya. Belum hilang ingatan saya akan cerita saudara, yang tahun lalu tas serta dompetnya berpindah ke tangan pencopet. Seruan untuk waspada pada terorisme, memang tidak boleh kita abaikan. Namun jangan sampai hal ini justru membuat kita lengah pada teror yang sesungguhnya !

Catatan: Tulisan ini pernah dimuat di Harian Tangerang Tribun


Dibuat Oleh:
Kahar S. Cahyono
Penulis/Citizen Journalism/Praktisi Ketenagakerjaan

Iklan
Dikirimkan di Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s