Arsip untuk September, 2011

Dalam sebuah obrolan ringan, Nani Kusmaeni (DPP FSPMI) mengatakan ada perbedaan sikap yang sangat mendasar antara buruh di luar negeri dan di Indonesia. Di luar negeri, menurutnya, meskipun tingkat kesejahteraan mereka sudah relatif baik, mereka tetap antusias menjadi anggota serikat pekerja. Mereka sadar, tidak ada jaminan bahwa apa yang mereka dapatkan saat ini akan tetap [...]

Rasanya, tidak ada kehilangan yang paling menyakitkan selain kematian orang yang kita cintai. Hilang harta bisa dicari, tetapi hilang raga hanya penyesalan yang terjadi. Emak sakit, dan aku masih saja berkutat dengan pekerjaanku. Saat emak dikabarkan telah meninggal dunia sekali pun, aku tidak bisa benar-benar lepas dari dunia kerja. Harus ada ijin ini itu untuk [...]

Bagaimana cara efektif untuk memperbesar jumlah anggota? Banyak cara yang bisa dilakukan, dan tidak ada satu pun dari banyak cara itu yang paling efektif. Sebab pada akhirnya, yang terpenting adalah seberapa besar kesungguhan kita dalam menjalankan semua hal yang sudah kita rumuskan. Menarik untuk mencermati apa yang disampaikan oleh Michael J. Latuwael (PC SPL FSPMI [...]

Jum`at hingga Minggu, 16 – 18 September 2011 kemarin saya hadir dalam workshop bertajuk ‘Membangun Pengorganisasian yang Berkelanjutan’ di Hotel Lembah Nyiur, Cisarua. Entah bagaimana ceritanya, dalam kesempatan ini saya diminta hadir dalam kapasitas sebagai PP SPAI FSPMI. Sebagaimana kebiasaan saya, saya akan membuat catatan terkait dengan system mencicil. Ini saya lakukan sekaligus untuk mengikat [...]

Entahlah, mengapa aku menjadi begitu individualis. Menjadi begitu mementingkan diri sendiri, sehingga kehilangan kepekaan terhadap sesama. Padahal, dulu, sebelum masuk ke pabrik, aku sering dipuji banyak kawan sebagai sosok yang memiliki jiwa sosial cukup tinggi. Kemana semua itu menghilang? Kini, sebagian besar waktuku habis di dalam pabrik. Berangkat pagi dan pulang ketika matahari sudah tenggelam. [...]

Untuk kedua kalinya, semenjak memutuskan merantau ke kota industri, aku merasakan kehilangan. Pertamakali adalah saat aku kehilangan jejak Subhan. Ya, memang ini bukan mutlak salahku. Akan tetapi, setidaknya, jika saja aku tidak pergi merantau, kami masih bisa terus bersama. Kedua, saat kehilangan emak. Dan ini, kurasa kehilangan terbesar dalam hidupku. Jika saja aku diijinkan oleh [...]

Pagi itu, kuterima kabar jika emak sakit. Satu kabar, yang justru membuatku ikut-ikutan sakit. Sakit hati, maksudku. Apa pasal? Inilah saat-saat aku merasa menjadi anak yang tidak berguna. Nun jauh disana, emak terbaring tak berdaya, berjuang untuk memulihkan kesehatannya. Sementara aku disini tidak bisa berbuat apa-apa. Pekerjaanku jelas tak bisa ditinggal. Meminta ijin pulang kampung [...]

”Jadilah karyawan yang baik. Nggak usah macem-macem, harusnya kita bersyukur bisa mendapatkan pekerjaan. Ingat, masih banyak diluar sana orang yang tidak seberuntung kita. Hingga saat ini pun mereka masih berstatus sebagai pengangguran….” Aku sering mendengar kalimat itu diucapkan orang. Bukan hanya sering, bahkan, pernah satu ketika aku mendapatkan nasehat serupa dari atasanku. ”Airin, kamu harus [...]

Terkadang, diam adalah cara terbaik buat kita untuk menghindar dari masalah. Tetapi, satu hal yang pasti, diam bukanlah cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah. Untuk sesaat, bisa jadi diam adalah solusi. Sekali lagi, hanya sesaat. Seperti api dalam sekam, ia akan tetap menyimpan daya bakar meskipun sudah terlihat mati. Roda hidup terus berputar. Tidak pernah [...]

Tidak selayaknya seseorang mendapatkan sanksi hanya semata-mata karena terlahir sebagai perempuan atau laki-laki. Tidak ada yang pernah meminta untuk terlahir sebagai perempuan, dan oleh karenanya, tidak boleh dipersalahkan. Jika itu terjadi, ini sungguh sulit untuk dimengerti. Sadarkah orang-orang itu, bahwa mereka terlahir dari seorang perempuan. Pernahkah terfikir olehnya, bahwa mereka tanpa rasa malu pernah sembilan [...]