Tahun 2000-an, Monumen Sodancho Soeprijadi, pahlawan Pemberontakan PETA di Blitar, hanya terdapat 1 patung. Patung Soeprijadi. Namun sekarang, Soeprijadi tidak lagi sendiri. Ada 6 buah patung lagi yang menemaninya. Keenam patung tambahan tersebut merupakan pahlawan-pahlawan yang turut serta dalam pertempuran melawan Jepang di bawah kepemimpinan Soeprijadi kala itu. Keenamnya meninggal setelah menerima hukuman mati oleh Jepang.
Monumen PETA terletak di sebelah selatan dari Taman Makam Pahlawan. Tepatnya berada di lingkungan sekolah SMP 3, SMP 5, SMP 6 Blitar. Ruang kelas SMKN 1 Blitar (kelas utara), semasa saya masih duduk di kelas 1, berada persis di belakang lingkungan sekolah SMP itu. Hampir tiap hari saya melihat gurat semangat dalam Patung Soeprijadi. Mengingatkan kita pada perjuangan serta pengorbanan beliau yang merelakan darah dan nyawa untuk kejayaan Indonesia.
Sampai saat ini cerita heroik Soeprijadi khususnya kemisteriusan menghilangnya beliau dari muka bumi pasca pemeberontakan PETA terus menjadi hal yang menarik untuk ditelusuri. Banyak sudah yang mencoba mencari cerita sesungguhnya dimana Soeprijadi mengakhiri hidupnya. Ada yang menyimpulkan bahwa Soeprijadi MUKSO [ hilang secara ghoib, karena kesaktiannya ], ada yang menemukan fakta bahwa Soeprijadi meninggal di Jawa Tengah, bahkan bila merujuk apa yang di sampaikan saudara Nico Andrianto melalui Buku Tamu di www.blitarkota.go.id bahwa Soeprijadi pernah hidup dan menetap di Kalimantan sampai akhir hayatnya.
Melalui lomba menulis blog yang digelar Djarum Black, saya hendak mengenang sosok yang paling berjasa ini. Sebagai pelajaran bagi setiap generasi. Agar kelak, sambil menghisap Djarum Black Menthol di kala senja, nilai-nila kepahlawanan Soeprijadi tetap dikenang dan abadi. (*)


